Hubungi kami

 

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday213
mod_vvisit_counterYesterday4477
mod_vvisit_counterThis week7058
mod_vvisit_counterLast week6544
mod_vvisit_counterThis month4690
mod_vvisit_counterLast month29089
mod_vvisit_counterAll days605567

We have: 6 guests online
Your IP: 54.83.128.192
 , 
Today: Oct 02, 2014
Anak
TUJUAN PENDIDIKAN PDF Print E-mail
Monday, 23 May 2011 07:29

Oleh: Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Kehidupan anak hampir selalu dikaitkan dengan pendidikan formal maupun informal, baik di rumah maupun di sekolah. Begitu juga kebahagiaan orang-tua juga hampir selalu dihubungkan dengan sukses dari pendidikan tersebut. Apa sebenarnya pendidikan yang dapat disebut sukses?

Dalam suatu seminar untuk orang-tua murid pernah saya ajukan sebuah pertanyaan kepada mereka yang hadir, "apa sebenarnya tujuan pendidikan yang kalian harapkan?" Dan seorang ibu dengan spontan menjawab, "kami ingin anak kami dapat menjadi manusia berguna untuk gereja, nusa dan bangsa, . . . manusia dengan jiwa mulia dan karakter yang baik."

Untuk jawaban tersebut, saya mengatakan "bagus." Lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan kedua, "tolong sebutkan kepada saya satu dua contoh manusia dengan jiwa mulia dan karakter yang baik. Apakah rasul Paulus, apakah mother Teresa ... atau mungkin Mahatma Gandhi? Apakah betul ibu mau jikalau anak ibu dididik untuk menjadi seperti Paulus, mother Teresa atau Mahatma Gandhi?" Heran ibu tersebut terdiam ... betul-betul terdiam, dan selama beberapa puluh detik tak seorangpun yang berbicara. Rupanya pertanyaan saya tadi tak pernah dipikirkan oleh mereka.

Sebagai orang-tua Kristen mereka tahu apa itu tujuan pendidikan yang terbaik. Tetapi pengetahuan tersebut hanyalah pengetahuan kognitif yang tak pernah dipikirkan sungguh-sungguh. Suatu ide bahkan suatu teori yang makin lama makin dirasakan "kosong" oleh karena kehidupan praktis jaman ini makin lama makin menutup pintu bagi aplikasi kebenaran tersebut. Menjadi seorang rasul, atau menjadi orang dengan jiwa mulia yang seluruh hidupnya dikorbankan untuk kepentingan sesamanya, merupakan hal yang sama sekali tidak menarik. Apalagi ditengah era Globalisasi di mana spirit hedonisme makin dipuja, dan pendidikan serta persiapan hidup semata-mata hanya berorientasikan kenikmatan perasaan dan kelimpahan materi.

Jadi, apa sebenarnya tujuan dari pendidikan? Untuk pertanyaan ini jawabannya sebenarnya cuma satu. Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa tujuan pendidikan, baik itu di rumah, gereja, maupun sekolah, tak lain daripada mempersiapkan anak menjadi manusia seutuhnya seperti yang dikehendaki Allah. Memang secara rohani setiap orang percaya sedang dididik dan diproses oleh Roh Kudus untuk menjadi serupa dengan gambar Kristus Yesus (Roma 8:29). Tetapi arti dari "menjadi serupa dengan gambar Kristus" adalah menjadi manusia yang seutuhnya. Dan keutuhan setiap manusia itu unik pada dirinya masing-masing, karena kepada setiap pribadi Allah memberikan talenta yang berbeda-beda sesuai dengan rencana Allah, dan sesuai dengan kesanggupan mereka (Matius 25:15). Dalam hal ini, pendidikan dengan segala motivasi, tujuan, dan metodenya, hanyalah sarana untuk merealisasikan rencana Allah dalam hidup setiap pribadi. Guru bahkan orangtua tidak mempunyai hak untuk menetapkan arah dan target pendidikan. Karena panggilan mereka hanyalah untuk menciptakan suasana pertumbuhan dan menyediakan sarana supaya rencana Allah tercapai.

Allah adalah pemanah, sedangkan orang-tua/guru hanyalah busur yang seharusnya melentur fleksibel di tangan-Nya, demikian dikatakan Kahlil Gibran dalam puisinya yang berjudul "Anak" seperti tertulis dibawah ini. Sebuah puisi yang diilhami oleh Mazmur 127.

Seorang ibu dengan bayi dalam dekapan, datang dengan mengajukan sebuah pertanyaan: bicaralah kepada kami tentang anak keturunan. Maka jawab-Nya: anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu.

Beri mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu. Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tidak dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan buat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pemah berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau. Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangkanmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah. Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

Tujuan pendidikan adalah manusia seutuhnya seperti yang dikehendaki Allah, dan peran guru/orang-tua hanyalah menciptakan kondisi dan saran saja. Allah lah (dan bukan guru/orang-tua) yang menentukan apakah anda akan menjadi dokter, atau insinyur, atau ahli hukum atau ekonom, atau apa saja. Untuk itu Allah sudah memberikan talenta khusus kepada setiap anak.

Sayang sekali apa yang Allah kehendaki tak selalu terlaksana. Manusia dengan segala kebebasannya seringkali mengubah garis rencana Allah tersebut sehingga tujuannya tidak tercapai. Dan akibatnya cukup fatal karena aspek-aspek kehidupan ini akhirnya tidak dikerjakan oleh orang-orang yang tepat, yaitu oleh anakanak Tuhan sesuai dengan talentanya. Banyak dokter Kristen yang melakukan pekerjaan dalam bidang kedokterannya semata-mata sebagai "job," dan sama sekali tak pernah melihat apa yang Allah sediakan denganmata visi orang beriman. Begitu juga insinyur, ahli hukum, ekonom, dan profesional-profesional lainnya. Seluruh aspek kehidupan manusia, pada akhirnya, tidak lagi memuliakan Khaliknya.

Betapa krusialnya masalah pendidikan karena masalah tersebut bersangkut-paut langsung dengan masalah keselamatan dan rencana Allah dengan kehidupan manusia. Sejak mula Allah menciptakan manusia untuk menjadi rekan sekerja-Nya dalam menaklukkan dan mengerjakan alam ciptaan dengan segala isinya. Kejatuhan (Fall) telah mengubah kepentingan dari panggilan mandat budaya ini, dari "satusatunya" menjadi "salah satu" panggilan Allah kepada orang percaya. Inilah sebabnya panggilan mandat budaya sering dipisahkan sama-sekali dari panggilan untuk memberitakan Injil, dan bahkan kemudian diabaikan. Akibatnya kehidupan pribadi orang percaya seringkali terpecah (split), tidak integratif (utuh) dan akhirnya tidak menjadi kesaksian yang baik. Itulah sebabnya Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma mencoba menyatukan kembali kedua panggilan utama tersebut. Ia mengatakan, "Seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan ... Sebab kita tahu sampai sekarang makhluk (ciptaan) sama-sama mengeluh dan sama-sama sakit bersalin ... menantikan pembebasan ... (Roma 8:20-24). Bagi Paulus, seluruh makhluk adalah segenap ciptaan dengan segala aspek-aspeknya. Mereka sudah terjerat dalam dosa dan kesia-siaan. Oleh sebab itu mereka juga menantikan pembebasan yang akan dikerjakan oleh anakanak Tuhan, supaya segenap ciptaan dapat memuliakan Sang Pencipta.

Prinsip kebenaran ini adalah salah satu dasar filsafat pendidikan Kristen yang terpenting. Karena berangkat dari prinsip inilah pendidik Kristen dapat mengembangkan kurikulum, metode, strategi, planning, bahkan menetapkan prinsip-prinsip dalam disiplin dan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler. Tuhan kiranya memberkati dan menambahkan bijaksana kepada mereka yang dengan tulus menghargai keunikar anugerah-Nya.

 
ISYARAT-ISYARAT PDF Print E-mail
Wednesday, 04 May 2011 04:12

Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.

 

 

Saya merasa beruntung sekali menjadi seorang pengajar. Bagaimana tidak, ternyata banyak sekali hal baru yang saya ketahui setelah menjadi pengajar. Salah satunya adalah pokok pikiran di bawah ini yang saya pelajari setelah saya mengajar mata kuliah Psikologi Abnormal. Pelajaran yang saya terima ini berkaitan dengan hubungan orang tua-anak pada waktu anak berpisah dari orang tuanya.

Dalam bukunya, Abnormal Psychology and Modern Life, 5th Edition, J. C. Coleman mengutip riset yang dilaporkan oleh Bowlby pada 1960 dan 1973. Bowlby mengamati reaksi anak usia 2 hingga 5 tahun, tatkala mereka berpisah dari orangtua mereka untuk masa yang lama sewaktu anak-anak ini dirawat di rumah sakit. Ternyata ada tiga reaksi anak yang ditunjukkannya secara bertahap. Pada awalnya, anak mulai memprotes, yakni menunjukkan ketidaksetujuannya dan ketidaksediaannya dipisahkan dari orangtua. Pada tahap ini anak biasanya lebih sering menangis dan menjerit. Reaksi berikutnya ialah putus asa, di mana anak menampakkan wajah yang murung dan pandangan yang kosong. Anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak aktivitas yang dilakukannya, dan mulai menarik diri dari lingkungan di sekitarnya. Tahap ketiga dan terakhir adalah menjauh, di mana setelah anak pulang ke rumah, ia tetap tampak tidak peduli dengan ibunya dan ada kalanya memperlihatkan sikap marah atau bermusuhan dengan ibunya.

Saya kira semua orangtua akan terenyuh apabila harus menyerahkan buah hatinya untuk dirawat di rumah sakit. Semua anak kami pernah "dirumahsakitkan" dan saya masih ingat betapa sedihnya hati kami pada saat-saat itu. Menurut saya, pengamatan Bowlby ini sangatlah berfaedah karena memberikan informasi kepada kita tentang apa yang kira-kira dialami oleh anak tatkala berpisah dari kita, orangtuanya. Ketiga tahap reaksi anak sesungguhnya mencerminkan satu objek reaksi yang sama yakni reaksi terhadap menghilangnya orang yang dikasihi dan mengasihinya. Masih dalam buku yang sama, J.C.Coleman juga melaporkan satu eksperimen tentang kera yang dibesarkan sendirian dalam kandang tanpa induk ataupun kera lainnya. Ternyata kera ini memperlihatkan perilaku yang menyimpang.Ia berdiam diri dan mendekam di sudut kandang sendirian, menampakkan wajah yang lesu dan penuh dengan ketakutan.

Sekarang saya ingin masuk ke inti pembahasan. Baik pengamatan Bowlby maupun eksperimen tentang kera menunjukkan satu hal yang jelas, yakni anak memerlukan interaksi yang hangat dengan orang tuanya. Kekurangan interaksi yang hangat dengan orangtua berpotensi menimbulkan perilaku yang menyimpang pada diri anak. Sewaktu saya bekerja sebagai Children's Social Worker, ada satu hal yang mengganggu sanubari saya. Kami semua berusaha melindungi anak-anak yang dianiaya, disalah asuh, dilalaikan, dicabuli, dieksploitasi, dan sebagainya, dengan harapan, perlindungan dan suasana rumah yang berbeda (sewaktu mereka dirawat di rumah asuh) dapat menjadikan mereka manusia dewasa yang sehat dan matang. Namun, cukup banyak anak-anak yang bertumbuh besar menjadi pemuda-pemudi yang bermasalah.

Saya mengamati, anak yang harus berpindah-pindah rumah asuh cenderung menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan anak yang diasuh di dalam rumah dan keluarga yang sama cenderung bertumbuh besar menjadi pemuda pemudi yang mantap. Saya kira alasannya cukup jelas. Anak membutuhkan ikatan batiniah yang permanen dengan orangtua atau pengasuhnya. Ikatan batiniah yang permanen adalah wadah terciptanya dan tumbuhnya interaksi hangat yang sangat dibutuhkan oleh anak. Tanpa ikatan batiniah, anak dapat bertumbuh besar tanpa arah dan kehilangan pegangan.

Interaksi yang mesra dan hangat dengan orangtua merangsang anak mendayagunakan semua potensi dalam dirinya. Tuhan melengkapi anak dengan kemampuan-kemampuan yang berperan besar dalam pembangunan kepribadian yang mantap. Pemberian Tuhan ini (hanya) dapat bertumbuh secara maksimal apabila anak berada di lingkungan yang aman, hangat, dan merangsang pendayagunaan kemampuan-kemampuan tersebut. Tanpa rasa aman, kehangatan, dan rangsangan yang memadai, kemampuan anak cenderung tidak tergali secara optimal. Akibatnya adalah ia akan kekurangan bahan untuk membangun penilaian dirinya yang positif.

Di samping itu, interaksi yang mesra dan hangat antara anak dengan orangtua menyediakan model atau contoh hidup yang sangat ia butuhkan dalam masa pertumbuhannya itu. Anak berpotensi dapat kehilangan pegangan dalam masa pertumbuhannya apabila ia jarang atau sedikit melihat dan berinteraksi dengan orangtuanya - yakni model atau contoh hidup itu. Pada dasarnya kita dapat mengibaratkan hidup ini dengan proses belajar yang tidak ada habisnya. Pada usia balita, kita belajar berjalan dengan cara melihat bagaimana orang di sekitar kita berjalan. Kita belajar berbicara dengan cara meniru orang di sekeliling kita berbicara. Tidak mengherankan apabila ada anak yang gaya jalan dan bicaranya persis dengan ayah atau ibunya. Bayangkan jika kita disuruh berbicara dan berjalan tanpa ada contohnya. Kita hanya akan bisa berkutat mencoba segala cara dan merasa "kehilangan pegangan". Kira-kira inilah yang dialami oleh anak yang sedang bertumbuh menjadi besar namun kekurangan interaksi dengan orangtuanya. Banyak hal dalam hidup ini yang perlu ia pelajari. Ia membutuhkan seorang guru yang dapat menjadi teladan baginya. Kehadiran orangtua yang dapat menjadi suri teladan bagi anak, akan menciptakan kepribadian anak yang memiliki pegangan.

Di rumah, saya mendapat "tugas" untuk menidurkan anak laki-laki kami. Anak kami ini senang sekali bermain dengan anjing-anjing kami dan kebetulan salah satu anjing kami memang agak galak. Sudah berulang kali saya dan istri saya mengingatkannya untuk tidak bermain telalu kasar dengan anjing tersebut. Kemarin malam sebelum tidur, kedua putri kami memberi "laporan" kepada saya bahwa putra kami bermain kasar lagi dengan anjing tersebut. Sebenarnya saya ingin memarahinya lagi namun berhubung baru beberapa hari yang lalu saya memarahinya untuk hal yang sama, saya memutuskan hanya menegurnya saja. Biasanya untuk menidurkan putra kami itu, saya hanya bercerita kepadanya. Malam itu hati saya jengkel, jadi saya tidak bercerita, dan ia pun tidak berani meminta saya bercerita (mungkin karena melihat wajah saya yang muram).

Setelah beberapa saat berlalu, dia hanya berguling-guling saja dan tidak dapat tidur, meskipun saya sudah memejamkan mata (salah satu teknik untuk menidurkan anak). Tiba-tiba ia menarik tangan saya dan meletakkannya di atas pipinya, seolah-olah meminta saya untuk menyayanginya sebelum ia tertidur. Hati saya luar biasa sedihnya melihat ia menarik tangan saya dan meletakkannya di atas pipinya. Saya baru diingatkan bahwa setiap malam sebelum tidur, saya selalu mencium dan membelai pipinya. Kemarin malam saya tidak melakukannya karena saya sedang jengkel terhadapnya. Tindakannya itu menunjukkan bahwa ia membutuhkan belaian saya dan akhirnya setelah ia meletakkan tangan saya di atas pipinya, barulah ia tertidur. Tanpa saya sadari, belaian tangan saya telah menjadi ungkapan kasih yang menimbulkan rasa damai dalam kalbunya.

Peristiwa di atas saya tuturkan kembali untuk memperlihatkan begitu banyak makna yang disampaikan kepada anak melalui tindakan-tindakan kita sehari-hari, yang nyaris tidak kita perhatikan karena tampak begitu sederhana.

Kenyataannya adalah, semua tindakan kita - betapa pun sederhananya- membawa makna-makna yang menciptakan dan memperkuat ikatan batiniah antara kita dan anak. Sesungguhnya, tindakan kita sehari-hari merupakan isyarat-isyarat yang menyampaikan begitu banyak pesan kepada anak. Misalnya, "Kami mengasihimu", "Kami memarahimu karena kami tidak ingin kamu terluka di kemudian hari", "Kami mengampunimu", dan segudang pesan penting lainnya yang ia butuh dengar dari kita, hari lepas hari.

Tidak heran, seekor kera bisa memperlihatkan sikap yang penuh ketakutan tatkala ia dibesarkan tanpa orangtuanya. Pengamatan Bowlby juga memberi kita peringatan bahwa keterpisahan anak dengan orangtua membawa dampak-dampak tertentu yang perlu kita sadari. Anak ingin dan perlu membaca isyarat-isyarat dari kita, orangtuanya, isyarat- isyarat yang menekankan bahwa ia merupakan bagian dari hidup kita yang penting. Sebagai penutup, pesan dari Gary Smalley dan John Trent mungkin baik untuk kita ingat, "Orangtua adalah alat Tuhan untuk membangun kedewasaan -kesempurnaan -dalam kehidupan seorang anak."

Dan jangan lupa, peran dan fungsi kita sebagai alat Tuhan ini hanya berlaku untuk sementara waktu saja. Jadi, gunakanlah kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Kirimkanlah isyarat sebanyak-banyaknya! Tuhan memberkati kita sekalian.

Last Updated on Tuesday, 08 January 2013 02:06
 
TRAGEDI PADA ANAK PDF Print E-mail
Monday, 11 April 2011 09:43

Oleh. Pdt. Paul Gunadi Ph.D.

 

 

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh berita kematian yang menimpa sebuah keluarga di mana seorang ibu menghilangkan nyawa keempat anaknya sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri. Sewaktu tragedi seperti kematian terjadi pada anak, sesuatu yang sukar dilukiskan tebersit dalam sukma. Rasa duka bercampur dengan kasih dan marah mengemuka dalam kalbu secara bersamaan. Kita ingin menangis, menghibur sekaligus memeluk, tidak rela melepaskan si kecil nan elok. Sewaktu tragedi menimpa anak, sesuatu yang polos dan murni tercedera dan tercemar; sesuatu yang indah pun terserabut keluar.

Apakah yang harus kita lakukan atau katakan kepada anak kita jika ia bertanya mengapakah seorang ibu sanggup melakukan hal seperti itu kepada anaknya sendiri? Lebih jauh lagi, apakah yang dapat kita perbuat untuk anak kita jika ia harus mengalami kehilangan teman akibat tragedi, misalnya bencana alam, kecelakaan, atau sakit penyakit? Sudah tentu, sedapatnya kita berusaha melindungi anak dari berita atau peristiwa tragis namun kadang tragedi menyergap seseorang yang dikenalnya dengan dekat. Pada saat seperti itulah peran kita sebagai orang tua menjadi penting untuk mendampingi anak melewati masa kehilangan dan tanda tanya ini.

Sebagai orang tua kita perlu memahami bahwa anak memiliki perasaan dan pemikiran dua komponen yang membuatnya mampu berinteraksi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Perbedaan utama antaranya dan kita yang dewasa adalah, pemahamannya masih terbatas dan tidak utuh. Itu sebabnya reaksi anak dalam bentuk perasaan biasanya hanya tertuju pada wilayah yang dapat dilihatnya saja. Untuk memastikan anak dapat melewati masa kehilangan tanpa harus memikul beban psikologis yang tidak seharusnya, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Berikut ini akan saya paparkan beberapa di antaranya.

Pertama, jangan berjalan di depan atau di belakang anak; berjalanlah di sampingnya. Berjalan di depan anak berarti terlalu membesar-besarkan tragedi ini atau terus menerus mengajaknya berbicara tentang hal ini. Berjalan di belakang anak berarti tidak mempedulikan reaksi anak atau tidak memberinya kesempatan untuk membicarakannya. Kedua ekstrem ini mesti dihindari dengan cara peka melihat tanda-tanda reaksi pada dirinya misalnya kesedihan, kebingungan, ketakutan dan memberi respons yang sepadan dengan dampak yang dialaminya. Inilah yang saya maksudkan dengan berjalan di samping anak.

Jadi, jika anak menunjukkan reaksi takut dan meminta untuk ditemani tidur, janganlah memarahinya; sebaliknya, temanilah. Setelah reaksi ini reda, dengan sendirinya ia akan bersedia tidur sendiri lagi. Bila ia mengajukan banyak pertanyaan, jawablah sedapatnya; jangan padamkan keingintahuannya atau menegurnya karena telah menanyakan pertanyaan yang tidak kita sukai. Ingatlah, anak belum dapat melihat secara utuh dan menyeluruh; itu sebabnya pertanyaannya pun kadang tidak utuh dan menyeluruh.

Kedua, jangan menyamaratakan reaksi anak. Ingatlah bahwa sama seperti kita, anak pun bereaksi secara individual. Anak yang ekstrovert cenderung ekspresif sedangkan anak yang introvert biasanya mencerna perasaannya secara pribadi. Juga ingatlah bahwa kadar relasi anak dengan temannya itu tidaklah sama; jadi reaksi yang diberikan sudah tentu tidak akan sama pula.

Dan, berhati-hatilah untuk tidak mengharuskan anak bereaksi seperti kita. Mungkin ada di antara kita yang tidak nyaman dengan pencetusan rasa sedih; jika itulah kondisinya, mohon jangan tuntut anak untuk menjadi seperti kita. Biarkanlah ia menyatakan reaksi apa adanya.

Ketiga, jangan cepat-cepat melabelkan bahwa orang tua yang sanggup melakukan hal seperti itu pastilah orang tua yang jahat. Membunuh adalah perbuatan yang salah dan berdosa di hadapan Tuhan namun memvonis bahwa orang tua yang menghilangkan nyawa anaknya pastilah orang tua yang jahat, adalah kesimpulan yang tidak bijak. Ada dua alasan mengapa saya berpendapat seperti ini. Pertama, kita tidak tahu secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan yang salah dan fatal itu. Jadi, menyimpulkan bahwa pastilah orang tua tersebut adalah orang yang jahat, sedikit prematur. Secara pribadi saya perlu melihat kehidupan seseorang secara utuh dan menyeluruh sebelum saya dapat memvonisnya jahat.

Alasan kedua, kenyataan hidup memperlihatkan bahwa adakalanya orang yang baik melakukan perbuatan yang jahat dan orang yang jahat kadang melakukan perbuatan yang baik. Dengan kata lain, satu perbuatan jahat bukanlah bukti bahwa seseorang itu jahat dan sebaliknya, satu perbuatan baik bukanlah bukti bahwa seseorang itu baik. Jadi, hindarilah pelabelan bahwa orang tersebut baik atau jahat; sebagai gantinya, ajaklah anak untuk melihat kenyatan hidup bahwa kita adalah manusia yang lemah dan berdosa dan bahwa dalam kelemahan kadang kita melakukan perbuatan salah yang kemudian kita sesali.

Keempat, jangan mengatakan bahwa orang yang melakukan hal seperti ini pasti masuk neraka. Firman Tuhan menegaskan, "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" (2Timotius 2:19). Tuhanlah yang empunya surga dan Ia memegang hak tunggal untuk menentukan siapa yang diterimanya di pintu surga. Tuhan Yesus berkata, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16) Inilah kriteria yang Tuhan tetapkan dan atas dasar inilah kita memastikan apakah kita memiliki hidup yang kekal.

Perbuatan baik atau tidak baik bukanlah dasar pemberian hidup yang kekal; iman pada Kristuslah yang menjadi dasar pengampunan dosa dan pemberian hidup yang kekal bersama Tuhan di surga. Sekali lagi Firman Tuhan mengingatkan, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman." (2Timotius 1:9)

Kelima, jangan menjawab, "Tidak tahu!" tatkala anak menanyakan apakah temannya itu masuk ke surga atau tidak. Ada dua hal yang dapat kita katakan kepada anak menyangkut pertanyaan ini. Pertama, jelaskan kepada anak bahwa Tuhan mengasihi temannya itu dan akan bertindak adil. Dengan kata lain, Tuhan tidak akan melakukan sesuatu yang keliru kepada siapa pun, apalagi kepada anak-anak yang belum memiliki konsep tentang dosa seperti kita orang dewasa atau pemahaman tentang Kristus sebagai Juruselamatnya. Jadi, ajaklah anak untuk mempercayai kasih dan keadilan Tuhan sebagai dasar pertimbangannya.

Kedua, Tuhan Yesus sangat mengasihi anak-anak dan malah menjadikan anak-anak sebagai contoh orang yang memiliki kerajaan surga. "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan kamu menghalang-halangi mereka sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." (Lukas 18:17) Jadi, atas dasar ini saya cenderung berkata bahwa anak-anak, di dalam keterbatasan pemahamannya tentang Tuhan, akan mendapat anugerah khusus dari Tuhan. Mungkin ada orang yang akan berkata, "Tetapi kamu tidak tahu dengan pasti bahwa anak-anak pasti masuk ke dalam kerajaan Allah dan jawaban ini bisa saja keliru!" Saya akan menjawab, "Betul, saya tidak tahu namun saya lebih rela keliru dalam upaya saya merepresentasikan Tuhan sebagai Allah pengasih kepada anak-anak ini daripada saya keliru merepresentasikan Tuhan sebagai Allah yang kejam."

Keenam, jangan mengatakan bahwa orang yang baik pasti tidak akan pernah menjadi korban tragedi. Anak mungkin akan menanyakan mengapa tragedi seperti ini terjadi pada temannya yang begitu baik. Ajaklah anak untuk melebarkan wawasan sekaligus mengiyakan bahwa tragedi dapat menimpa siapa pun dengan cara mengajukan beberapa contoh peristiwa tragis seperti tsunami, gempa, dan jatuhnya pesawat.

Jelaskan kepada anak bahwa alam semesta beserta isinya telah tercemar oleh dosa; itu sebabnya kita menjumpai ketidakberesan dalam kehidupan. Jelaskan pula bahwa adakalanya kita menjadi korban perbuatan dosa yang dilakukan orang lain. Tuhan tidak menghentikan semua ketidakberesan ini karena inilah konsekuensi kehadiran dosa di dunia. Memang dunia bukanlah surga dan hanya di dalam surgalah semua ketidakberesan ini akan berakhir.

Ketujuh, jangan membiarkan anak mengembangkan sikap ketidakpastian yang berlebihan. Peristiwa tragis berpotensi mewarnai sudut pandang anak secara negatif dan membuatnya meragukan segala sesuatu termasuk kasih sayang dan niat baik orang tua. Kita dapat menolongnya lepas dari sikap ini dengan cara menanamkan kepedulian dan rasa tanggungjawab. Sesungguhnya salah satu akar penyebab mengapa peristiwa tragis ini terjadi adalah karena di dalam permasalahan yang begitu berat, orang tua tidak mencari pertolongan. Izinkan dan ajaklah anak untuk mencari pertolongan pihak luar bila ia melihat permasalahan di dalam keluarganya. Jangan sebaliknya menanamkan sikap menyembunyikan masalah.

Juga, ajaklah anak untuk peka dan peduli dengan perubahan sikap teman yang menjurus ke arah murung dan putus asa. Ajarkan anak untuk meminta bantuan guru atau rohaniwan atau sanak saudara lain dan tekankanlah bahwa jika saja orang mencari pertolongan, pastilah peristiwa seperti ini tidak harus terjadi. Tatkala anak menyadari bahwa ada tindakan konkret yang dapat dilakukannya, ia pun bertambah tenang dan tidak lagi tenggelam dalam ketidakpastian.

 

Kesimpulan: Tragedi kematian pada anak memaksa anak (lainnya) untuk melihat hidup dengan cara yang lebih dewasa dan kelabu. Tragedi mematikan sebagian nafas kekanak-kanakan yang cerah dan menghidupkan dimensi suram dari kehidupan. Kita tidak dapat memutar jarum jam dan meniadakan yang telah terjadi-termasuk dampaknya pada anak kita. Tragedi - tidak bisa tidak - akan mematangkan anak lebih dini; tugas kita adalah memastikan bahwa ia matang di dahan yang tepat dan kuat.

 

 
AYAH DAN ARAH PDF Print E-mail
Monday, 04 April 2011 01:30

 

Oleh: Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.

 

 

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktek konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari “sesuatu” sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.

Semua anak—laki atau perempuan—membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. Menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.

Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.

Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menjadi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyakan budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?

Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi—dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya—kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: Di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.

Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-model) dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium—sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apa-apa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya—mantap dan terarah—karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.

Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa arah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatikan perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.

Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, “Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, … Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak … aku diajari ayahku, katanya kepadaku, ‘Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.” (4:1-4)

“Diajari ayahku.” Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang.

Last Updated on Wednesday, 13 April 2011 04:46
 
PERAN AYAH DALAM MENDIDIK ANAK PDF Print E-mail
Wednesday, 23 March 2011 03:33

 

Oleh: Dr. Paul Gunadi

 

 

Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah to father. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu mothering, fathering, dan parenting. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.

Salah satu tugas ayah kristiani ialah "mengajarkannya (perintah Tuhan kepada anak-anakmu dengan membicarakannya....." (Ulangan 11:19). Dengan jelas Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan perintah Tuhan dengan cara membicarakannya. Apabila Anda seperti saya, mungkin Anda juga mengalami kesulitan membicarakan, apalagi mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak Anda. Saya kira membicarakan dan mengajarkan bukanlah perkara yang terlalu sulit: yang terlebih sukar adalah membicarakan dan mengajarkan secara tepat dan pada waktu yang tepat sehingga dapat dicerna oleh anak kita. Ada satu peristiwa yang Tuhan berikan kepada isteri dan saya di mana kami berkesempatan mengajarkan dan membicarakan Firman Tuhan kepada salah satu anak kami. Pelajaran yang kami sampaikan berasal dari Matius 7:12 dan wahana penyampaiannya, tak lain tak bukan, bola basket.

Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa Matius 7:12 mendapat julukan Hukum Emas (The Golden Rule) adalah karena nilai yang terkandung di dalamnya bak emas yang sangat berharga. Hukum ini mengatur relasi kita dengan sesama secara agung sekaligus praktis. Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Torat dan kitab para nabi. "Berbahagialah orang yang mampu menerapkan Firman Tuhan ini dalam kehidupannya, sebab Firman ini adalah kunci keberhasilan dalam pergaulan. Barangsiapa bisa memperlakukan orang lain sama seperti ia ingin diperlakukan, ia sudah memiliki "emas" yang tak ternilai. Sebagai orang-tua kami pun rindu agar anak -anak kami mempunyai "emas" yang tak ternilai itu dan Tuhan telah menyediakan sarananya.

Suatu hari ibu guru salah seorang anak kami yang berumur hampir 9 tahun menelpon isteri saya untuk memberitahukan bahwa tadi anak kami menangis di sekolah. Menurut ibu guru tersebut, anak kami ingin bermain bola basket dengan kawan-kawannya namun mereka tidak mengizinkannya bermain dengan mereka. Ia merasa perlu memberitahukan kami sebab ia merasa prihatin melihat kesedihan anak kami yang mendalam itu. Pada sore harinya isteri saya menceritakan kepada saya perihal anak kami itu. Sebelumnya isteri saya sudah menanyakan anak kami dan ia bercerita bahwa memang benar ia menangis karena tidak diajak bermain bola basket. Reaksi alamiah kami adalah rasa iba sebab kami menyadari bahwa anak kami itu memang senang bermain basket. Penolakan teman-temannya sudah tentu mendukakan hatinya.

Mendengar peristiwa tersebut, dengan didorong oleh rasa iba dan hasrat untuk menghiburnya, saya bergegas memanggil anak kami itu dan mengajaknya bermain bola basket di halaman rumah. Melalui permainan itulah akhirnya Tuhan menyadarkan saya akan salah satu tugas mendidik selain dari menghibur anak, yakni mengajarkan Friman Tuhan. Tuhan membukakan mata saya terhadap hal-hal tersembunyi yang jauh lebih hakiki daripada sekadar menghibur anak. Pada saat bermain itulah baru saya memahami mengapa teman-temannya enggan mengajaknya bermain. Alasanya tidak lain bukan adalah ia bermain curang! Naluri keayahan saya mendorong saya bertindak sebagai pahlawan yang ingin membela anak kami, seolah-olah dengan mengajaknya bermain saya berkata, "Biar semua orang tidak mau bermain denganmu, saya akan salalu siap bermain denganmu." Namun, ternyata di jugalah pemicu perlakuan teman-temannya.

Pada waktu kami sedang bermain, kakanya juga turut melempar-lempar bola ke basket. Adakalanya bola yang sedang dilemparnya bersentuhan dengan bola basket kakaknya dan ia pun dengan segera ia meminta mengulang....dengan bola di tangannya lagi. Namun pada suatu ketika, bola itu bertabrakan dengan bola yang dilempar kakaknya, tetapi kebetulan saat itu, sayalah yang sedang melempar bola. Dengan serta merta ia mengambil bola dari tangan saya dan "menghukum" saya dengan cara memberinya hak untuk melempar bola ke basket dua kali. Saya berusaha menerangkannya bahwa keputusannya itu keliru namun ia tidak peduli dan malah mogok bermain. Dengan bersimpuh di tanah menduduki bola itu ia bersikeras bahwa saya salah dan selayaknya menerima hukuman.

Saya mencoba untuk menjelaskan bahwa ia telah bertindak tidak adil sebab pada waktu hal yang sama terjadi pada dirinya bukan saja ia tidak menghukum dirinya, ia malah menghadiahi dirinya. Ia tetap tidak menerima penjelasan saya dan menolak untuk mengakui ketidakkonsistenannya. Di dalam ketidaktahuan apa lagi yang harus saya lakukan, akhirnya saya berkata dengan lembut, “ jika engkau bermain tidak adil, tidak akan ada orang yang ingin bermain lagi denganmu dan saya tidak ingin melihat engkau menjadi orang yang tidak mempunyai teman." Setelah mengatakan hal itu, saya lalu memeluknya dan ia pun mulai meneteskan air mata. Kemudian saya menanyakan kembali, dan sekarang ia siap mengakui ketidakadilannya itu. Sesudah itu saya mengajaknya bermain lagi dan ia pun bermain jujur dan adil.

Saya berterima kasih kepada Tuhan yang tidak membiarkan saya melewati kesempatan emas yang tak ternilai itu. Betapa mudahnya bagi saya melakukan tugas keayahan saya dengan cara menghibur anak kami namun kehilangan pelajaran yang sangat berharga. Melalui peristiwa tersebut ada beberapa hal yang saya pelajari yang berfaedah bagi tugas keayahan. Pertama, tidak ada cara lain, tugas mendidik menuntut waktu. Sudah tentu keinginan atau kerinduan menjadi ayah yang baik adalah penting, namun tekad tersebut haruslah diwujudkan dalam bentuk waktu yang diberikan bagi anak kita. Tanpa waktu, tidak akan ada kesempatan "mengajarkan dengan cara membicarakan" pedoman hidup yang berasal dari Firman Tuhan. Jika saya tidak menyediakan waktu untuk bermain basket dengan anak kami, tidak akan ada peluang untuk menyaksikan kelakuannya dan sekaligus mengkoreksi sikapnya.

Kedua, tugas mendidik membutuhkan kesediaan untuk melihat kelemahan anak kita. Kita perlu terbuka untuk menerima kenyataan bahwa anak kita bukan saja tidak sempurna, namun akibat dosa, ia pun berpotensi merugikan orang lain. Adakalanya sulit bagi kita untuk mengakui kelemahan anak kita karena kelemahannya sedikit banyak merefleksikan kekurangan kita pula.

Ketiga, tugas mendidik mendahulukan pendekatan kasih ketimbang konfrontasi. Kadang kita perlu memperhadapkan anak kita dengan perbuatannya secara tegas; sekali-sekali kita perlu menghukumnya. Namun yang harus lebih sering dan diutamakan adalah menegurnya dangan kasih. Makin keras saya menegurnya, makin bersikeras ia menyangkalnya. Sebaliknya, tatkala dengan lemah lembut saya menegurnya, ia pun luluh dan bersedia menerima perkataan saya.

Keempat dan terakhir, tugas mendidik yang Kristiani menuntut kita menjadi ayah yang mengenal Firman Tuhan. Tanpa pengenalan akan Firman Tuhan, kita tidak bisa mendidiknya seturut dengan Firman Tuhan. Hukum Emas dari Matius 7:12 sangatlah penting, tetapi masih banyak kebenaran Firman-Nya yang perlu kita sampaikan kepada anak kita.

 
«StartPrev12NextEnd»

Page 1 of 2
Banner
Copyright © 2014 konselingkristen.org. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.