Hubungi kami

 

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday635
mod_vvisit_counterYesterday10546
mod_vvisit_counterThis week16567
mod_vvisit_counterLast week5868
mod_vvisit_counterThis month51815
mod_vvisit_counterLast month29089
mod_vvisit_counterAll days652692

We have: 8 guests, 4 bots online
Your IP: 54.227.171.163
 , 
Today: Oct 30, 2014
Gereja
MASA DEPAN PEMIKIRAN TEOLOGI DI INDONESIA PDF Print E-mail
Tuesday, 19 April 2011 05:24

Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Pendahuluan

Teologi adalah bahasa yang menyingkapkan konsep pemikiran manusia tentang Allah dan kebenaran-kebenaran-Nya. Allah adalah Allah yang "incomprehensible but knowable." Meskipun la tidak pernah terbelenggu dalam persepsi dan pemahaman manusia, la di dalam kerelaan anugerah-Nya telah memberikan diri-Nya untuk dikenali orangorang percaya.

Natur dari pengenalan itu tidak pernah mandeg (berhenti), oleh sebab itu pertanyaan "bagaimana masa depan pemikiran teologi" adalah suatu pertanyaan yang tepat, bukan hanya untuk jaman ini tetapi juga untuk segala jaman. Umat Kristiani (yang existensinya "selalu berada di tengah jalan") harus selalu mempertanyakan pertanyaan tersebut. Bagaimanakah masa depan pemikiran teologi Kristen?

Sejarah menyingkapkan realita yang tidak sesuai dengan "ideal" yang baru saja disebutkan. Umat Kristiani selalu mengulang sejarah kesalahan dari umat Allah. Sama seperti umat Israel, mereka seringkali ingin kembali ke masa lampau (merindukan kehidupan di Mesir yaitu kehidupan umat tanpa pertanggungjawaban iman) atau kadangkadang bahkan menikmati "status quo" (merasa cukup puas dengan "oase" yang ditemukan di tengah jalan). Seringkali kita mendengar kata-kata: "Kalau pemikiran teologi yang sudah ada sudah cukup baik, mengapa perlu dipertanyakan atau diperbaharui lagi?"

Bicara tentang masa depan pemikiran teologi, umat Kristiani benar-benar menghadapi tantangan yang besar.

 

Pembahasan

Menurut pengamatan penulis saat ini, masa depan pemikiran teologi di Indonesia akan ditandai oleh beberapa gejala sbb:

 

1. Pengembangan pemikiran Teologi kontekstual makin diperlukan.

Teologi adalah pertanggungjawaban iman sesuai dengan keunikan pengalaman pribadi (menyangkut keunikan watak, temperament, life structure dan pengalaman-pengalaman pribadi) dan keunikan pengalaman gereja (keunikan pengalaman pribadi-pribadi dalam interaksinya dengan sesamanya dalam konteks pertanggungjawaban bergereja) di tengah konteks kehidupan yang real.

Oleh sebab itu, perkembangan pemikiran teologi di Indonesia tidak seharusnya sama dengan perkembangan pemikiran teologi di Eropa (mis: abad ke 15-17), meskipun inti dasar prinsip-prinsip pergumulannya tidak seharusnya berbeda atau bertentangan.

Kita hidup di tengah konteks kebudayaan dan sikon Indonesia. Kita seharusnya dapat mengembangkan pemikiran teologi sebagai pertanggungjawaban iman kita di tengah situasi kondisi yang unik ini. Apa jawab kita dan apa panggilan Allah di tengah realita yang kita hadapi di Indonesia di akhir abad XX ini? Tanpa pengembangan teologi kontekstual (yang murni) gereja akan menjadi kumpulan orang yang berilusi dan atau berdelusi. Contoh teologi kontekstual:

a. Pemikiran teologi Pancasila.

b. Pemikiran teologi toleransi yang memungkinkan terciptanya dialog dengan sesama umat beragama.

c. Pemikiran teologi pertanggungjawaban di tengah konteks Bhineka Tunggal Ika.

d. Pemikiran teologi business, urbanisasi, sosial, globalisasi, penggalian sumberdaya manusia, hubungan iman dan ilmu pengetahuan, teologi Pekabaran Injil di tengah konteks Indonesia, dan dalam menyongsong Pembangunan Jangka Panjang Tahap (PJPT, II th 1994-2019) kita perlu mengembangkan teologi pembangunan bangsa dan negara.


2. Perkembangan pemikiran Teologi awam akan menjadi semakin tidak terkendali.

Kita berada di tengah proses transformasi bidang pendidikan yang terjadi di seluruh dunia dan dalam segala bidang. Perubahan tersebut pada dasarnya bergeser dari persepsi mengenai pendidikan sebagai kegiatan dalam menara gading ke arah pendidikan yang relevan dengan kehidupan kebutuhan masyarakat dan bahkan menjadi pelopor pembaharuan. Di tengah pergeseran dan proses perubahan ini, sekolah-sekolah tinggi teologi akan terpaksa memperbaharui kurikulum dan sistem evalusi studinya. Segi cognitif pendidikan teologi tetap akan mendapat prioritas yang tinggi, namun masalah integrasi antara teologi dengan kehidupan yang nyata akan menjadi tolok ukur keberhasilan suatu pendidikan.

Kegagalan untuk dapat menempatkan diri di tengah proses sejarah ini akan menghasilkan keterkiliran/dysequilibrium yang menuntut suatu penyelesaian yang segera. Siapa yang berhasil sebagai pihak yang pertama masuk ke dalam arena, ialah yang akan mengarahkan seluruh pola berpikir jaman ini. Sebagai contoh:

a. Dalam dunia usaha.

Kebutuhan akan tenaga-tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan akan telah memaksa perusahaan-perusahaan raksasa di dunia untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikannya sendiri. Tercatat lebih dari 25 perusahaan di Amerika yang telah melaksanakan pendidikan yang memberikan gelar. Perusahaan Wang (computer), Northtrop dan Arthur Anderson telah memberikan gelar Master dan Rand Corporation memberikan gelar Ph.D. bukan hanya untuk karyawannya tetapi juga untuk umum. Tercatat lebih dari 400 kampus yang sekarang ini menjadi milik perusahaan-perusahaan raksasa seperti Xerox, IBM, Pizer dan perusahaan-perusahaan Jepang. IBM saja telah menghabiskan US$ 700 juta setahun untuk pendidikan bagi karyawan-karyawannya.

Kesadaran akan pentingnya "pemenuhan kebutuhan masyarakat" telah menimbulkan trend dalam orientasi pendidikan-pendidikan tinggi jaman ini. Jaman ini usahawanusahawan yang berhasil telah dinilai sebagai pemimpin-pemimpin yang berhasil pula. Amerika tidak ragu-ragu mencalonkan seorang usahawan, Ross Perot, sebagai calon presiden dalam PEMILU yang baru lalu dan beberapa universitas telah berani mengangkat usahawan sebagai rektor mereka. Trinity University di San Antonio tiba-tiba telah menjadi 1 dari 10 besar hanya oleh karena rektornya diganti oleh seorang usahawan.

b. Dalam dunia kehidupan Kristiani.

Keterlambatan sekolah-sekolah teologi untuk dapat mengembangkan pemikiran teologi yang sesuai dengan kebutuhan jamannya telah mengakibatkan kebangkitan pemikiran teologi awam yang "tak terkendali" di akhir abad XX ini. Munculnya teologi awam yang kacau (yang dimanifestasikan oleh gerakan kharismatik dengan segala ekses dari tafsiran-tafsiran Alkitabnya) akan semakin diakui sebagai salah satu teologi Kristen yang sah. Sebaliknya teologi Orthodox (Reformed, misalnya) yang tidak berhasil "memformulasikan dirinya" ke dalam bahasa jaman ini, akan menjadi "trademark" barang antik. yang diakui ketinggian nilainya tetapi sudah kehilangan fungsinya yang semula sebagai "suara Allah untuk jamannya".


3. Pengembangan pemikiran teologi makin lama makin menjadi bagian dari suatu profesionalisme.

Akibatnya kemurnian pemikiran teologi yang pernah mencapai puncaknya di abad Renaissance dan Reformasi (1417 AD) hanya akan menjadi kenangan indah di masa lampau. Program pendidikan teologi dengan "academic degree" makin lama makin kehilangan kemurniannya. Sekarang ini, barangkali 6070 dari Ph.D. degree program di seluruh dunia tak lain daripada suatu "professional degree program."

Lulusan pendidikan tinggi selama Repelita V, VI dan VII akan mengalami kenaikan sebesar 17-18% setahun. Pertumbuhan angkatan kerja tamatan universitas mengalami pertumbuhan 8,42% atau 42.000 orang per tahun dan sebagian besar tidak akan tertampung (akan menganggur). Makin lama lulusan SMA akan cenderung mencari bidang studi yang tidak sesuai dengan bakat/talenta yang Allah berikan padanya. Sebagian besar mahasiswa/i sekolah tinggi teologi adalah individu-individu yang memilih bidang studi teologi oleh karena terpaksa (tidak diterima di sekolah yang lain), atau oleh karena alasan security jaminan masa depan (job opportunity).

Daya tampung perguruan tinggi terhadap lulusan SMA juga semakin kecil. Tahun 1988, misalnya, ada 1.048.841 lulusan SMA dan yang diserap oleh Perguruan Tinggi hanya 13,4%, dan th 1990 dengan 1.131.067 lulusan SMA hanya 147.703 orang atau 13,05% yang tertampung di perguruan-perguruan tinggi. Akibatnya sekolah-sekolah tinggi teologi akan tetap "laku" tetapi kwalifikasi mahasiswa/inya akan mengalami kemerosotan (kalau Sekolah Tinggi Teologi tidak memiliki sistem penyeleksian yang baik).

Dengan demikian pengembangan pemikiran teologi di masa yang akan datang akan mengalami hambatan yang besar, dan sekarang ini sudah benar-benar mulai dirasakan. Sedikit sekali hamba-hamba Tuhan yang benar-benar kwalified, dan di Indonesia kita belum menjumpai seorang teolog pun (yang betul-betul secara murni mengembangkan pemikiran teologinya secara sistematis). Masa depan pengembangan pemikiran teologi benar-benar.

 

4. Teolog kaum Injili akan dibangun di atas landasan "sectarian psychological structure."

Mengamati kehidupan dan perkembangan dari kelompok-kelompok "Injili" di Indonesia yang terpecah-belah (dimana pemimpin-pemimpinnya tidak dapat bekerja sama) kita sulit untuk bisa mengharapkan akan adanya pengembangan pemikiran teologi Injili di masa-masa yang akan datang. Consortium antar sekolah tinggi teologi Injili hanya akan menjadi teori yang kosong, karena masing-masing sekolah tinggi teologi hanya berorientasi pada kepentingan "nama dan kebesaran" dirinya sendiri.

Hampir setiap sekolah tinggi teologi Injiil di Indonesia berilusi bahwa sekolah mereka sendirilah yang "paling baik dan yang paling bisa diharapkan untuk pengembangan pemikiran teologi Injili" di Indonesia. Padahal dengan "popularity orientation" (orientasi yang sematamata pada nama dan jumlah) pengembangan pemikiran teologi tidak akan mendapat perhatian yang serius dan tidak akan pernah dikerjakan benar-benar.

Hampir setiap sekolah tinggi teologi Injili tak mempunyai kaderkader untuk pengembangan pemikiran teologi. Yang ada hanyalah "pengikut-pengikut dari seorang pengkhotbah besar." Dan ini terjadi oleh karena kaum Injili selalu mendapatkan kader-kademya lewat sarana "penginjilan" dan bukan lewat “pendidikan gereja”. Akibatnya kalaupun mereka menyerahkan diri dan menjadi mahasiswa/I sekolah tinggi teologi, mereka hanya mempunyai target studi dengan orientasi praktis, yaitu mengumpulkan bahan dan melatih diri untuk dapat menjadi “penginjil yang populer”, dan bukan untuk menjadi seorang teolog. Di tangan kaum Injili, sekolah tinggi teologi berubah menjadi “akademi-akademi penginjilan”. Masa depan pengembangan pemikiran teologi Injili di Indonesia kabur. Gereja makin tidak berperan di tengah dunia oleh karena gereja tidak dapat memberikan sumbangan apa-apa kepada dunia dalam kebutuhan mereka.


Catatan: Program gelar S.Th., M.Div., dan D.Min. yang dikhususkan untuk pelayan penggembalaan dalam konteks gereja lokal, dan program gelar M.Th., dan Doktoral (Ph.D., Th.D., dsb) yang diarahkan untuk pengembangan pemikiran teologi, harus dapat dibedakan secara jelas dari program MA untuk Mission dan Evangelization.

Disampaikan dalam Konsultasi Teologi Peringatan ULTAH Pelayanan Pdt.Dr. Stephen Tong Jakarta, December 16,1992.

 

 
BELAJAR DI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PDF Print E-mail
Wednesday, 13 April 2011 06:55

Oleh: Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Pendahuluan

Tulisan kali ini adalah renungan pribadi yang saya ingin bagikan bagi mereka yang terbeban untuk pendidikan theologi. Renungan ini adalah suatu refleksi yang diharapkan dapat menjernihkan salah pengertian tentang apa dan bagaimana belajar di Sekolah Tinggi Theologi.

Pada umumnya orang berpikir bahwa Sekolah Tinggi Theologi adalah tempat di mana seorang belajar berkhotbah. Memang, khotbah (homiletika) merupakan salah satu mata kuliah yang mungkin diajarkan, tetapi khotbah hanyalah satu dari puluhan mata kuliah yang lain. Bahkan di banyak Sekolah Tinggi Theologi khotbah sama sekali tak pernah diajarkan. Lalu apa yang diajarkan? Mengapa perlu Sekolah Tinggi Theologi?

Ide tentang perlunya Sekolah Tinggi Theologi bagi hamba-hamba Tuhan bukanlah pemikiran abad XX. Sejak abad keempat bapak-bapak gereja seperti Agustinus, Panteaus, Clement dan Origen sudah benar-benar secara sering memikirkan kepentingan dari pendidikan yang setinggi-tingginya bagi hamba-hamba Tuhan. Dengan mempelajari filsafat (Platonis) mereka semakin menyadari betapa rahasia kehidupan manusia yang begitu kompleks hanya dapat dijawab oleh kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang betul-betui mendalam. Mereka yakin bahwa theologi adalah ilmu yang paling tinggi dan paling agung mengatasi segala ilmu pengetahuan yang lainnya. Jikalau hamba Tuhan betul-betui ingin menjadi hamba Tuhan yang bertanggung jawab, ia harus mengenal ilmu theologi dan integrasinya dengan setiap aspek kehidupan (konsep Aristotelian). Untuk itulah kurikulum di Sekolah Tinggi Theologi menjadi begitu kompleks, meliputi begitu banyak mata kuliah yang harus dipelajari. Mata kuliah theologi itu sendiri bisa terdiri lebih dari sepuluh mata kuliah, belum lagi mata-mata kuliah Alkitab, filsafat, bahasa, pendidikan, psikologi, sejarah, dan sebagainya. Jumlah seluruhnya bisa mencapai lebih dari lima puluh mata kuliah, dan khotbah (homiletika) hanyalah salah satu dari lima puluh mata kuliah tersebut. Homiletika hanyalah satu bagian kecil di tengah keseluruhan kurikulum di Sekolah Tinggi Theologi. Jadi, meskipun khotbah merupakan hal yang sangat penting, belajar di Sekolah Tinggi Theologi tidak sama dengan hanya belajar ilmu berkhotbah.

Belajar di Sekolah Tinggi Theologi adalah belajar di tengah kondisi yang menuntut kemampuan dan kedewasaan yang penuh. Kemampuan saja tidak cukup, karena tanpa kedewasaan yang penuh, mata-mata kuliah yang begitu banyak tak mungkin dapat diintegrasikan dalam kehidupan dan pelayanan praktis. Kemampuan tanpa kedewasaan menghasilkan sarjana yang tidak hidup dalam kebenaran yang ia pelajari. Mungkin ia fasih dalam berkhotbah, tetapi ia tidak menghayati dimensi-dimensi "firman Allah" yang ia beritakan. la hanyalah pemain sandiwara, kehidupannya tidak integratif. Apa yang dipelajari tidak menjadi pengalaman pribadinya dengan kebenaran Allah. Kalaupun ia berhasil menjadi Sarjana Theologi, ia bukanlah hamba yang menjawab panggilan Allah.

Kedewasaan merupakan salah satu komponen yang terpenting dalam studi theologi, dan itu selalu ditandai oleh:

I. Kemampuan hidup dalam dimensi "religious"

Keunikan dari pelajaran dalam setiap mata kuliah di Sekolah Tinggi Theologi adalah adanya dimensi religious. Kalaupun mata kuliah yang diajarkan tidak secara langsung bicara tentang agama (religion], tetap keberhasilan studi dalam mata kuliah tersebut ditentukan oleh kemampuan mahasiswa menarigkap dimensi-dimensi religious yang tersedia. Edward Schillebeeckx (teolog Belanda) menyebut dimensi ini sebagai "personal communion between God and man" ("Revelation and Thelogy", Vol. 1. Trans. by. N. D. Smith. New York: Sheed and Ward, 1967, p. 93). Suatu pengalaman (dan bukan pemahaman cognitive) yang hanya dapat dibuktikan melalui peristiwa perubahan dan pembaharuan dalam hidup individu yang bersangkutan.

Charles Clock dalam tulisannya yang berjudul, "On the Study of Religious Commitment," menyebutkan tentang lima dimensi kehidupan rohani yang secara langsung mendapat dampak perubahan dan pembaharuan tersebut. Itu meliputi: (1) dimensi ideologi yang disebut religious belief, (2) dimensi ritual yang disebut sebagai religious practices, (3) dimensi experiential yang disebut sebagai religious feeling, (4) dimensi inteleklual yang disebut sebagai religious knowledge, dan (5) dimensi consequential yang disebut sebagai religious effects ("Religious Education", LVII, July - August. 1962. pp 98-100). Jadi, kalau betui individu tersebut hidup dalam dimensi religious ia akan mengalami arti "belajar" yang sesungguhnya. Dalam hidupnya terjadi proses "transfer" dari apa yang dipelajari secara cognitive di kelas ke dalam kehidupan praktisnya secara utuh.

Dengan dasar ini, mahasiswa theologi akan dibebaskan dari jerat sikap mental "belajar untuk menjadi pelayan agama." Mereka akan memahami betapa pengalaman dengan Allah yang hidup justru membebaskan mereka dari belenggu "agama" yang mematikan. Pengalaman dengan Allah akan membuat agama Kristen menjadi religionless Christianity (kekristenan tanpa agama) (Dietrich Bonhoeffer," Letters and Papers from Prison," Ed. by. E. Bethge. London: SCM, 1967. pp. 152-155). Tepatlah seperti yang dikatakan oleh Karl Barth bahwa, "the revelation of Cod is not only above all religions, but in its fullness and plenitude is actually destructive of a religion, (Penyingkapan diri Allah bukan hanya mengatasi semua agama tetapi bahkan di dalam kepenuhannya menghancurkan jerat-jerat agama yang mematikan)" ("Church Dogmatics," Vol. I, 2. Edinburg: dark, 1956, p. 280). Dimensi religious atau dimensi perjumpaan dengan Allah akan membebaskan individu tersebut dari "agama." la akan menyadari bahwa tingkah laku agama hanyalah simbol dari kebenaran yang lebih dalam. ia akan memlliki kekuatan memperbaharui simbol-simbol tersebut sesuai dengan pertanggungjawaban imannya kepada Allah.

Setiap calon Sarjana Theologi harus dapat hidup dalam dimensi religious ini. Meskipun secara praktis ia akan melakukan pelayanan dan kegiatan-kegiatan agama, ia bukanlah pelayan agama. la adalah pelayan (hamba) Allah. Pekerjaannya bukanlah suatu job melainkan "jawab atas panggilan Allah."

II. Kemampuan hidup dalam dimensi "theology"

Kalau dimensi religious membebaskan individu dari jerat "agama," maka dimensi theo/ogy adalah manifestasi cognitive dari kebenaran tersebut. Artinya, dimensi theology adalah sarah satu dimensi pertanggungjawaban iman di mana orang beriman "menformulasikan dan menjelaskan" apa yang dialami dalam dimensi religious tadi. Melalui theologi, pengalaman dengan Allah yang "incomprehensible" (di seberang akal budi), sekarang menjadi "knowable" (terfahami). Seperti yang Schillebeckx katakan bahwa, melalui theologi "the law of faith becomes visible in human thought" (hukum-hukum iman yang begitu abstrak menjadi objek yang terpahami akal budi manusia) (Edward Schillebeeckx, ibid, pp. 87-95).

Setiap momentum perjumpaan dengan Allah memiliki dimensi-dimensi yang begitu kaya yang tak mungkin dapat difahami dan dijelaskan secara sempurna. Oleh sebab itu visibilitas dari dimensi religious tetap merupakan visibilitas theology. Artinya, pengalaman dengan Allah menjadi visible hanya dalam konteks iman yang hidup (living faith). Walaupun ada kemungkinan orang percaya bisa menformulasikan pengalaman dengan Allah dalam theologi yang tepat, tetap visibilitas kebenarannya tidak secara otomatis dapat ditangkap olehnya. Individu tersebut harus berada pada momentum yang Karl Barth sebut sebagai primal history yaitu "moment which has no before and after" (momentum di luar ikatan sejarah dan ikatan hukum alam) ("The Epistle to the Romans," London: Oxford Univ. Press. 1933. p. 137). Suatu momentum "pemahaman cognitive" bersama dengan Allah.

Jadi, berada di dalam dimensi theology bukanlah suatu pengalaman natural dalam suatu proses belajar seperti biasanya. Tidak pernah ada seorangpun yang bisa memasuki dimensi theology di luar iman yang sejati. Mungkin secara cognitive seorang bisa memikirkan dan menformulasikan konsep-konsep theologi yang "benar." Tetapi tanpa iman yang hidup ia tidak pernah berada di dalam dimensi theology. Oleh sebab itu belajar di Sekolah Tinggi Theologi betul-betui melibatkan individu dalam suatu proses belajar yang sama sekali asing dan tak pernah dikenal di sekolah-sekolah yang lain.

Penutup

Dimensi religious dan dimensi theology merupakan keunikan-keunikan yang mungkin paling mudah diabaikan dalam konteks belajar di Sekolah Tinggi Theologi. Sebabnya oleh karena setiap mata kuliah di Sekolah Tinggi Theologi penuh dengan religious content (isi agamawi) yang seringkali dianggap "pada dirinya sendiri (an sich)" adalah kebenaran Allah. Oleh sebab itu hal mempelajari content tersebut biasanya disertai dengan munculnya pola-pola bahkan sistem kehidupan jiwa yang 'religious." Akhirnya makin lamaindividu yang bsrsangkutan makin tidak menyadari akan kepentingan dari dimensi religious dan dimensi theology yang sesungguhnya. la bisa mempelajari theologi sistematik (dogmatic), misalnya, tanpa keterlibatan langsung dengan Allah yang hidup. Untuk inilah Emil Brunner mengingatkan bahwa, "Dogmatics is not the Word of God” (“The Christian Doctrine of Cod: Dogmatics", Vol. I. Trans. by. Olive Wyon. Phil.: Westminster, 1950. p. v). Walaupun mungkin dogmatics yang dipelajari di Sekolah Tinggi Theologi benar-benar lahir dari pengalaman yang sejati dengan Allah, tetapi tanpa individu mahasiswa tersebut masuk ke dalam dimensi religious dan dimensi theology, ia hanyalah seorang mahasiswa yang mempelajari religious content, la hanya seorang mahasiswa. la bukan hamba Allah yang sedang diperlengkapi.

 
REFORMED YANG INJILI PDF Print E-mail
Monday, 11 April 2011 09:31

Oleh: Pdt Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Pernah seorang mahasiswa bertanya, "apa sebenarnya Reformed Injili?" Sambil berpikir saya juga bertanya, "menurut Anda sendiri apa?". la segera menjawab, "menurut saya. Reformed Injili adalah istilah yang dipakai untuk menandai suatu gerakan yang dimulai oleh Dr. Stephen Tong, Dr. Caleb Tong dan Bapak sendiri untuk menghidupkan kembali doktrin Reformed yang murni supaya gereja-gereja di Indonesia dapat dibawa kembali kepada Alkitab dan inti iman Kristiani yang benar. Istilah Injili ditambahkan untuk menegaskan keunikan gerakan ini yang menekankan penginjilan."

Memang sebagian besar jawaban di atas ada benarnya, tetapi saya merasa ada beberapa salah mengerti di balik kata Refomed dan Injili, khususnya dalam penjelasan tentang "Injili". Istilah injili atau evangelical seringkali dipakai dengan pengertian yang berbeda-beda. Kebanyakan gereja-gereja Reformed, a.l. gereja Lutheran yang didirikan oleh Martin Luther di Jerman, memakai nama "Injili/ Evangelical church." Seorang tokoh Reformed yang besar, Karl Barth juga menyebut nama theologianya sebagai Theologia Injili/Evangelical Theology". Padahal kedua istilah Injili di atas tidak ada hubungannya dengan "Injili/Evangelical” yang dipakai dalam gerakan baru yang dimulai oleh Dr. Stephen Tong dkk ini.

Istilah Injili yang dipakai dalam gerakan yang baru ini bersumber dari peristiwa sejarah gereja di Amerika di akhir abad XIX pada saat Biblical Criticism diterima oleh pemimpin-pemimpin gereja Presbyterian denominasi PCUSA. Pada saat itu kelompok yang kemudian disebut sebagai kelompok dari Old Princeton School (A.A. Hodge, B.B. Warfield, Gresham Machen dan sebagainya) meninggalkan PCUSA dan Princeton Theological Seminary untuk mendirikan Westminster Theological Seminary di Philadelphia. Mula-mula mereka bergabung dengan kelompok Fundamentalist karena kemiripan orientasi doktrinal sekitar lima fundamental faith. Tetapi kemudian pada tahun 40-an mereka memisahkan diri dari kaum fundamentalist dan mendirikan The National Association of Evangelicals yang mau bekerja sama dengan gereja-gereja Ekumenikal tetapi dengan motto "cooperation without compromise". Tahun-tahun itulah lahir istilah Injili/Evangelical dengan identitas yang khusus sampai sekarang ini. Yaitu kelompok dari berbagai denominasi gereja yang menerima a.l. (1) Alkitab sebagai Firman Allah yang Infallible dan Inerrant, (2) perlunya orang Kristen dilahirkan Baru (Born Again), (3) perlunya kehidupan dalam kesalehan, (4) perlunya orang Kristen memberitakan Injil sebagai respon atas Great Commision, dan (5) perlunya orang Krsiten memikul Mandat Budaya.

Jadi, istilah lnjili/Evangelical bukan hanya menunjuk akan kegiatan penginjilan yang biasanya kurang diperhatikan oleh gereja-gereja Reformed di seluruh dunia. Istilah ini lebih menunjuk pada identitas gerakan yang baru ini, yang menjadi bagian dari movement kelompok Evangelicals dari berbagai denominasi pada permulaan abad XX. Reformed Injii adalah gerakan kaum Reformed tetapi yang Injili atau Reformed yang berorientasi dengan lima aspek yang juga dipercayai oleh setiap denominasi gereja Injii di seluruh dunia. Apakah itu cukup?

Sejarah gereja-gereja Injili di Amerika menyaksikan betapa dengan kelima aspek penting tersebut, gereja belum dapat berperan cukup di tengah dunia. Doktrin dari denominasi-denominasi gereja non-reformed, meskipun telah ditambah dengan kelima aspek Injili yang begitu baik, ternyata tidak menghasilkan peran gereja yang berarti di tengah dunia. Bahkan ada kecenderungan betapa peran gereja makin lama makin merosot. Mengapa demikian? Jawabnya sederhana, yaitu karena unsur terpenting yang dapat menghidupkan kelima aspek Injili/Evangelicalism itu diabaikan. Unsur itu justru menjadi keunikan dan kelebihan Theologi Reformed, yaitu "unsur akali atau intellect".

Memang Alkitab dalam kesederhanaannya, juga merupakan Firman Allah yang terbuka bagi siapa saja termasuk mereka yang level cognitive-nya rendah. Untuk pelayanan dan kesaksian yang sederhana inilah Firman disingkapkan bagi mereka yang sederhana. Tetapi untuk peran dan pelayanan yang kompleks di tengah dunia yang sudah begitu maju, Allah menyediakan misteri atau rahasia kebijaksanaanNya dalam bentuk Firman yang hanya dapat dipahami oleh mereka dengan level cognitive yang tinggi (Ibrani 5:13 - 6:3). Itulah sebabnya pada saat umat Kristen mengabaikan realita perlunya intellectualism, mereka cenderung kehilangan peran di tengah dunia. Hal ini terbukti dalam sejarah gereja di seluruh dunia.

Mula-mula gereja-gereja di Amerika mempunyai peran sangat besar di tengah dunia. Pada permulaan abad XIX, kaum Puritans dari Inggris merupakan kumpulan orang-orang Kristen yang berpendidikan tinggi. Kehadiran mereka telah menyebabkan 95% orang yang hidup di Massachusetts dan Connecticut melek huruf (Neil Postman, "Amusing Ourselves to Death", New York: Penguin Books, 1985, p. 31). Beban mereka bukan hanya untuk pemberitaan Injil dan kesaksian hidup dalam kesalehan saja, tetapi juga dalam mendidik manusia dengan level pendidikan yang setinggi-tingginya. Mereka mendirikan sekolah tinggi (colleges), mengharuskan orang tua mengajar anaknya membaca dan menulis sebelum usia 6 tahun, dan menggalakkan pendidikan seni, sains, filsafat dan setiap bidang hidup sebagai perwujudan iman kepada Allah dalam Yesus Kristus. Setiap hamba Tuhan haruslah seorang yang berpendidikan tinggi, menguasai bidang-bidang ilmu pengetahuan, dan dapat membimbing jemaatnya dalam setiap tantangan hidup mereka (Alien Garden, "'Puritans Christianity in America", Grand Rapids: Baker, 1990). Hamba Tuhan Puritan yang terkenal, Cotton Mather menegaskan bahwa, "Ignorance is the mother not of devotion but of heresy (Kurang pengetahuan adalah sumber dari kesesatan, dan bukan dari ibadah)" (Garden, p. 186).

Peran ini kemudian luntur di pertengahan abad XIX justru oleh bangkitnya pemberitaan Injil sebagai suatu budaya (Ingat, "suatu budaya"). Pemberitaan Injil itu ansich adalah hal yang amat mutlak penting, tetapi pada saat hal yang penting itu sudah menjadi budaya, justru dapat menghasilkan dampak dan efek sampingan yang merugikan. Hal itulah yang penulis tegaskan dalam bagian depan dari tulisan ini. Betapa Injli/Evangelicalism menjadi unsur yang melemahkan peran gereja di tengah dunia, pada saat penginjilan dijadikan budaya baru umat Kristiani.

Pada pertengahan abad XIX itu, arus dari Great Awakening dari Inggris (yang mulai di Inggris pada abad XVIII) melanda Amerika. Arus itu belum berdampak besar pada saat Great Awakening yang pertama yang dipimpin oleh tokoh Reformed, George Whitefield tahun 1730 dan 1750. Tetapi kemudian dampaknya mulai terasa pada saat terjadi Great Awakening kedua dan ketiga, yang dipimpin oleh Charles Finney tahun 1824-1837, dan diteruskan dalam bentuk Layman's Prayer Revival tahun 1856-1858. Saat-saat itu terjadi kebangunan rohani yang besar-besaran. Ratusan ribu orang Amerika menerima Kristus, dan gereja-gereja berkembang begitu pesat dalam jumlah keanggotaan mereka. Namun sayang sekali pemberitaan Injil tersebut telah membentuk budaya yang sekali lagi justru melemahkan peran Kristiani di tengah dunia. Pengkhotbah-pengkhotbah besar menekankan perlunya pertobatan mendadak (terbukti dengan maju ke depan) lebih daripada pengenalan yang benar dan mendalam akan Firman Tuhan. Khotbah-khotbah yang populer, emosional dan praktis (didasarkan pada tafsiran allegorical) lebih daripada khotbah-khotbah doktrin yang solid yang didasarkan atas hermeneutical accuracy/penafsiran yang tepat. Akibatnya benarlah seperti yang disinyalir oleh George Marsden yang mengatakan bahwa, "anti-intellectualism was a feature of American revivalism (anti-intelektualisme adalah salah satu wujud dari kebangunan rohani di Amerika) ("Fundalitalism and American Culture", New York: Oxford, 1980, p. 212). Spirit yang melemahkan ini terus terbawa sampai sekarang ini. Riset yang dilakukan oleh Galiup Poll on Religion tahun 1980 menyimpulkan keadaan yang ada dengan kata-kata: "We are having a revival of feelings but not of the knowledge of God. The church today is more guided by feelings than by confictions. We value enthusiasm more than inform commitment (Benar kita sedang mempunyai kebangunan, tetapi kebangunan feelings atau emosi dan bukan kebangunan pengetahuan tentang Allah). Gereja-gereja jaman ini lebih dituntun oleh emosi daripada oleh keyakinan iman. Kita menilai semangat yang berkobar-kobar lebih dari komitmen yang didasarkan atas pengenalan akan kebenaran". Nada yang sama diungkapkan oleh R.C. Sproul yang menegaskan bahwa, "We live in what may be most anti-intellectual period in the history of Western civilization ... We must have passion - indeed hearts of fire for the things of God. But that passion must resist with intensity the anti-intellectual spirit of the world (Barangkali kita hidup di tengah jaman yang paling anii-intelektual di sepanjang sejarah kebudayaan Barat... Kita harus memiliki kerinduan besar dari had yang terbakar untuk kebenaran-kebenaran Allah, tetapi kerinduan tersebut harus mewujudkan diri dalam bentuk yang sungguh-sungguh melawan spirit ami intelektual yang ada di dunia ini)"' ("Burning Hearts are Not Nourished by Empty Heads", Christianity Today, 26, Awpt.3, 1982, p. 100).

Injili adalah sesuatu yang baik. Pemberitaan Injil adalah hal yang sangat mulia, tetapi tanpa intellectualism, hal yang baik tersebut dapat membentuk budaya yang justru melemahkan peran Kristen di tengah dunia. Reformed memberi jawab atas kekurangan tersebut dan Theologi Reformed Injili merupakan salah satu kebutuhan mutlak untuk zaman ini. Kiranya Tuhan berkenan dan memberkati hati yang tulus ingin mempersembahkan yang terbaik untukNya. Soli Deo Gloria

 

Last Updated on Monday, 11 April 2011 09:51
 
ANTARA HUKUM DAN INJIL PDF Print E-mail
Wednesday, 06 April 2011 12:06

Oleh: Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Mungkin setiap masalah dalam kehidupan orang percaya, bagaimanapun keadaannya, selalu berkaitan dengan masalah hukum dan Injil. Orang Kristen bisa merasa dirinya dirugikan, tidak dimengerti, dihina, dilecehkan, dimusuhi, atau pengalaman negatif apa saja, biasanya terjadi oleh karena ia tidak dapat menyelesaikan ketegangan antara hukum dan Injil didalam dirinya. Kedua entitas ini selalu hadir dalam jiwa manusia meskipun seorang telah dilahirkan barn oleh Roh Kudus. la bisa mengamini kehidupan dalam Injil tetapi pada saat yang sama terjebak dalam jebakan hukum dosa.

Alkitab menyaksikan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus temyata tidak dengan sendirinya membebaskan orang percaya dari jerat hukum yang melumpuhkan ini. Alkitab menyaksikan bahwa hampir setiap individu orang beriman pernah terjebak didalamnya. Paulus juga pernah terjebak dalam hukum "daging" yang berulang-kali menyeretnya kedalam perhambaan dosa (Roma 7). Petrus pernah terjebak dalam hukum "budaya dan kewajaran" yang menjadikannya seorang yang munafik (Gal 2:11-14). Jemaat Galatia terjebak dalam hukum Taurat atau "Injil yang lain" yang menisbikan atau merelatifkan karya agung keselamatan Kristus yang sudah dianugerahkan. Jemaat Ephesus terjebak dalam hukum "religiusitas agama" sehingga mereka lupa bahwa segala jerih payah pelayanan mereka bukanlah manifestasi kasih mereka pada Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 2). Berbagai jebakan hukum, bisa menjadi penghalang utama mengaplikasikan kehidupan dalam Injil yang sejati.

Meskipun demikian Alkitab juga menyaksikan bahwa manusia membutuhkan hukum. Bahkan individu Kristen tidak pernah bisa hidup tanpa hukum. Sebagai manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus, ia hams menyadari bahwa dirinya tidak pernah dapat hidup tanpa hukum. la yang sudah dimerdekakan dari hukum Taurat adalah ia yang telah masuk kedalam ikatan "hukum yang baru" (Mat 22:34-40) yang memerdekakan dari dosa. Sehingga kewaspadaan atas "jebakan hukum" harus ada, bukan oleh karena manusia tidak membutuhkan hukum, tetapi oleh karena "masih hidupnya dosa dalam spirit hukum yang lama yang belum digantikan dengan spirit hukum yang baru." Disebut spirit, karena isi dan aplikasi praktis antara yang lama dan yang baru sebetulnya sama saja. Setiap nokta dan iota dari Taurat tak boleh diabaikan, tetapi spiritnya harus baru. Spirit pemenuhan hukum haruslah spirit penggenapan hukum yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus (Mat 5:17-18). Spirit pemenuhan hukum yang baru itulah yang disebut Injil. Oleh sebab itu salah satu tanda dari keselamatan dalam Yesus Kristus adalah realita kehidupan dalam spirit pemenuhan hukum yang baru. Suatu anugerah, tetapi anugerah yang harus dikerjakan terus-menerus dengan takut dan gentar (Fil2:12)

Kelengahan menghidupi spirit hukum yang baru adalah sumber dari kegagalan orang Kristen untuk mengatasi dosa-dosanya. Mungkin karena itulah gereja selalu mengalami kesulitan untuk menjadi kehadiran Kristus dimuka bumi, dan orang-orang Kristen selalu jatuh bangun dalam dosa-dosanya. Mereka tidak sadar bahwa Injil yang mereka imani dapat dengan cepat berubah menjadi "sekedar simbol kosong" oleh karena spirit pemenuhan hukum yang lama berkuasa kembali. la masih orang Kristen, tetapi apa yang ia perjuangkan dan upayakan (mungkin dengan perencanaan dan strategi yang tepal sehingga hasilnya pun memuaskan dirinya) sebenarnya bukan kebenaran Allah, sehingga:

I. Pemberitaan Injil menjadi proselitisme

Spirit pemenuhan hukum yang lama selalu menghidupkan dosa-dosa manusia, sehingga seorang penginjil bisa menggebu-gebu bergiat memberitakan Injil tetapi spiritnya adalah “striving for superiority” dimana kepuasannya bukan pertobatan orang berdosa melainkan jumlah dan kebesaran namanya sendiri. la bahkan iri dan dengki melihat penginjil yang lain juga dipakai oleh Tuhan, apalagi kalau jumlah yang hadir lebih banyak, ia akan terus menciptakan "persaingan yang tidak sehat" dengan hamba-hamba Tuhan yang lain. la akan terdorong membuka cabang gerejanya ditempat dimana terjadi ramainya persaingan. la tidak bersemangat untuk memberitakan Injil ditempat yang justru belum terjangkau oleh Injil. Beban sebenarnya bukan pemberitaan Injil pada mereka yang masih ada didalam kegelapan, tetapi "superioritas" usahanya. Untuk itulah ia membuka cabang-cabang gerejanya di kota-kota besar dimana sudah banyak gereja "yang baik." Sekali lagi bebannya bukan pemberitaan Injil pada yang terhilang dan tersesat, bahkan kerinduan untuk memperkuat yang sudah ada dan menciptakan kerja-sama saudara-saudara seiman tidak ada. la bahkan dengan terencana melakukan pencurian domba-domba. Inilah yang disebut proselitisme.

Dalam Perjanjian Lama, proselit itu sendiri mempunyai konotasi yang cukup positif, yaitu keterbukaan anugerah Allah bagi "orang-orang asing atau non-Israel" untuk ikut ambil bagian mendemonstrasikan tingkah-laku iman yang benar (Kel 12:48, Bil. 15:30 dsb). Memang alasan mereka tidak selalu positif (mis: II Raja-raja 17:24-41) tetapi Tuhan mengijinkan mereka mengambil bagian dalam kehidupan ibadah orang-orang pilihan Allah. Mereka disebut sebagai "ger toshab " yaitu petobat-petobat dari luar pintu gerbang umat Allah. Alkitab mencatat bahwa dari mereka benar-benar ada yang berbalik setia kepada Allah Yahweh meninggalkan ilah-ilah sembahan mereka yang lama, seperti yang dilakukan oleh Rahab, Rut, dan Uria suami Batsyeba. Bahkan Perianjian Baru mencatat adanya begitu banyak proselit yang hadir dalam ibadah raya Paskah di Yerusalem (Kis Ras. 2:10, 6:5, 13:43).

Meskipun demikian pengertian dari kata proselit kemudian berubah menjadi negatif, oleh karena "semangat keagamaan yang dikuasai spirit pemenuhan hukum yang lama." Untuk itu Tuhan Yesus tidak segan-segan menghardik pemimpin-pemimpin agama dan mengatakan, "Celakalah kamu hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang yang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri" (Mat 23:15). Komitmen dan semangat yang menggebu-gebu memberitakan keyakinan agama bisa dengan mudah dikuasai oleh spirit pemenuhan hukum yang lama yang sebenarnya cuma memuaskan keinginan dirinya sendiri.

II. Kesetiaan kepada Allah didemonstrasikan dengan spirit militan pembelaan doktrin

Kehadiran spirit pemenuhan hukum yang lama juga nyata dalam sikap militan dan judgmental terhadap orang-orang yang doktrinnya berbeda. Bagi mereka, seolah-olah Tuhan Allah membutuhkan pembelaan manusia supaya nama-Nya dapat dipermuliakan. Tepatlah yang dikatakan oleh Gerald Mann bahwa mereka akan menjadi "God's gestapo" oleh karena mereka adalah "peoples who consider themselves guardian of faith, the sniffers-out of heresy/ . . . mereka menganggap dirinya pembela iman Kristen dari kesesatan” (The Seven Deadly Virtues” Waco, TX.: Word Books, 1979). Mereka tidak segan-segan mengutuk dan membenci bahkan kalau perlu "menyingkirkan" orang-orang Kristen yang berbeda dengan mereka dari muka bumi. Mereka menjadi "laskar-laskar berani mati" oleh karena kehadiran dan peran Roh Kudus yang menghidupkan hati nurani dan membebaskan dari perhambaan dosa telah ditolak. Mereka adalah hamba-hamba organisasi gerejanya sendiri karena kesetiaannya pada organisasi gereja lebih dari pada Tuhan Yesus kepala gereja yang sejati, yang justru datang untuk membebaskan dari ikatan pemenuhan hukum yang lama. Untuk itu Harry Emerson Fosdick mengatakan bahwa, "There is not a more destructive force on earth than the religious person who condemns others out of a sense of service to God/. . . tak ada penghancur yang lebih besar daripada sikap menghakimi sesama dengan alasan pengabdian pada Allah" ('Dear Mr. Brown." New York: Harper & Row, 1961, P, 170). Memang "Virtue which is unchecked is more dangerous than a blantant evil/. . . kebajikan yang tak pernah diuji lebih berbahaya daripada kejahatan yang dilakukan terang-terangan" (C.S.Lewis "Four Loves" London: Fontana, 1950).

Perhambaan spirit pemenuhan hukum yang lama senngkali manifestasnya tersembunyi. Seolah-olah orang Kristen bisa begitu setia kepada Tuhan padahal spiritnya bukan kebenaran Injil yang sejati yang membebaskan (Yoh 8:32). Mereka bisa secara terus terang menghina iman kelompok Kristen "yang lain" bukan oleh karena kasih Kristus yang merindukan kehadiran kebenaran iman yang sejati. Bahkan mereka bisa memberikan pengajaran tentang etika dan moral yang sangat meyakinkan tetapi kebenarannya lahir dari "hukum yang lama." Seorang psikolog pernah mengatakan bahwa "orang yang paling keras memberikan hukuman kepada penjinah adalah orang yang sesungguhnyajiwanya sendiri penjinah." Juga Gerald Mann dalam bukunya yang sama menceriterakan pengakuan seorang hamba Tuhan yang mengatakan bahwa, "whenever I see others enjoying what I would secretly like to enjoy but I am either too old or too cowardly to try, I may want to deprive them of their enjoyment - all in the name of moral reform. In reality, I am only blinding myself to my secret sin of envy/. . . Pada saat saya melihat orang lain begitu bebas menikmati dosa yang sebetulnya saya inginjuga nikmati,. . . tapi takut, saya ingin menghukum mereka. Padahal satu-satunya dorongan yang ada dalam diri saya hanyalah iri hati" (p.23). Realita kehadiran spirit pemenuhan hukum yang lama ini selalu menjebak orang percaya dalam perhambaan dosa. Suatu kemunafikan hidup. la bisa begitu keras menghakimi kelemahan sesama, padahal dirinya sendiri terjebak dalam kelemahan yang sama.

Spirit Injil yang dimanifestasikan dalam pernahaman dan empathy pada kelemahan sesama manusia hanya dimiliki oleh mereka yang terbebas dari jerat hukum yang lama. Hal ini terus-menerus didemonstrasikan oleh Tuhan Yesus yang penuh empati dan understanding, seperti pada saat ia berkata kepada perempuan penjinah "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi" (Yoh 8:10). Memahami realita ini, menolong orang Kristen dapat membaca puisi yang ditulis A.T. Lanta yang berjudul "Saints who have never been caught" dimana dikatakan, " I'm a sinner O Lord, and I know it. . . .I'm weak, I blunder, I fail . . . I'm tossed on life's stormy ocean, like ships embroiled in a gale ... I'm willing to trust in Thy mercy; to keep the commandments Thou's thaught. But deliver me. Lord, from the judgment. . of saints who have never been caught /. . . Tuhan aku orang her dosa... bebaskanlah aku dari dosa orang-orang saleh yang tak pernah ketahuan." (Lofman Hudson," Grace is not a Blue-eyes Blond” Waco: Word 1968, p.31).

 

Last Updated on Monday, 11 April 2011 09:50
 
UMAT KRISTEN DI TENGAH ERA POST MODERN PDF Print E-mail
Wednesday, 16 March 2011 03:53

Oleh: Pdt. Yakub Susabda, Ph.D.

 

 

Era Post Modern yang dimulai pada tahun 1990-an ditandai dengan kebangkitan semu agama-agama di seluruh dunia. Kejujuran eksistensialistik (kejujuran tanpa etika dan standar kebenaran mutlak dari agama) yang telah memberikan pukulan yang begitu berat pada inti iman (yang selama ini menghidupi dan menjadi identitas agama) telah memaksa agama-agama besar untuk mengubah misi mereka di tengah dunia ini. Tiba-tiba terjadi suatu konsensus bahwa agama tidak lagi berbicara tentang kemutlakan doktrin, tradisi dan ajaran jalan keselamatan. Agama sekarang mempunyai peran baru di masyarakat yaitu "transformasi", yang sebenarnya merupakan manifestasi baru dari peran sosial di tengah dunia yang makin membutuhkan perdamaian, keadilan dan cinta kasih. Dalam peran inilah, agama dipaksa mengadopsi jiwa toleransi dari spirit relativisme. Suatu kondisi yang membuat kehadiran umat Kristen di zaman ini menjadi dilema.

Pada setiap periode sejarah, umat Kristen menghadapi tantangan kesaksian yang berbeda. Pada era Modem (mulai dengan revolusi Perancis tahun 1789 s.d. runtuhnya tembok Berlin di tahun 1989), dengan munculnya Romanticism, Rationalism, Empiricism dan Existentialism, umat Kristen ditantang untuk membenahi imannya. Di tengah tekanan Biblical Criticism (Kritik Alkitab) yang mempertanyakan kembali setiap bagian inti iman, umat Kristen mengalami kegagalan dan mencoba menyembunyikan diri dengan melarikan diri dari realitas serta masuk masuk ke dalam permainan religious art and culture. Biblical Criticism dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin terjawab secara memuaskan telah memecah belah kesatuan tubuh Kristus. Sebagian terpaksa menyerah dan mengintegrasikan imannya dengan filsafat-filsafat zamannya. Dan sebagian lagi mencoba menipu diri sendiri dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan zamannya dan mengembangkan jenis baru dari tingkah laku rohani yang "pada dirinya sendiri" memberikan kepuasan batiniah. Itulah yang disebut art and culture. Maka lahirlah Neo-Pentecostalism atau Charismatic Movements dengan 1001 macam manifestasi "tingkah laku rohani yang baru", yang seolah-olah dapat memenuhi kebutuhan rohani di tengah era Modern yang telah menggoncangkan setiap sendi iman.

Di tengah kebingungan peran ini, umat Kristen tidak lagi berpikir secara Kristen. Apa yang menjadi inti iman tidak lagi menentukan sikap dan tingkah laku dalam kehidupannya. Meskipun mengakui kepentingan mutlak dari inkarnasi Anak Allah misalnya, dalam hati muncul kejujuran eksistensialistik yang mengatakan, "Kalaupun aku tidak percaya akan inkarnasi Anak Alah, itu pun tidak mengubah apa-apa." Skandal ini berlaku dalam hubungan dengan hampir setiap unsur iman Kristen. Akibatnya, kepercayaan akan Allah Tritunggal, penebusan dosa melalui darah Kristus, dsb hanya menjadi simbol-simbol agama yang mati, yang sebenarnya tidak menentukan apa-apa. Kelompok Neo-Pentecostalism mengatakan bahwa yang terpenting adalah pengalaman rohani yang memuaskan, dan kelompok yang lain menegaskan bahwa yang terpenting adalah mengerti makna dari unsur-unsur iman tersebut untuk zaman ini. Bagi kelompok yang kedua ini, hakekat Allah (Tritunggal), inkarnasi Anak Allah, penebusan dosa, dsb hanyalah simbol-simbol iman. Apakah itu betul-betul nil dan historical itu tidak penting, karena yang terpenting adalah "apakah makna dari hal-hal tersebut bagi kita sekarang ini".

Pada era Modern, hampir setiap teolog besar (seperti Karl Barth dan Paul Tillich) berpikir dengan orientasi filsafat zamannya. Mereka mencoba memakai bahasa dan pikiran zamannya untuk mengkomunikasikan iman Kristen, tetapi mereka gagal untuk dapat memelihara inti iman tersebut. Di tangan mereka, inti iman Kristen berubah menjadi simbol-simbol yang kosong, yang makna dan beritanya sama saja dengan makna dan berita yang ada dalam setiap agama besar di dunia ini. Benarlah yang dikatakan oleh Harry Blamires bahwa "There is no longer a Christian mind... The Christian mind has succumbed to the secular drift with a degree of weakness unmatched in Christian History" (The Christian Mind, London: SPCK, 1963, pp. vii, 3).

Dengan kegagalan-kegagalan di era Modern, umat Kristen memasuki era Post Modem dengan kekaburan akan jati din atau identitas. Dan itu ditandai a.I. dengan:

Pertama, kecenderungan untuk menjadi anti intelektualisme. Anti intelektualisme tidak sama dengan anti kemajuan ilmu pengetahuan. Banyak orang Kristen yang berpendidikan tinggi dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan tapi tetap berjiwa anti intelektualisme. Dalam hidup mereka, "inteiek" dalam arti yang sesungguhnya tidak dipakai sebagaimana mestinya. Mungkin mereka dapat berpikir tentang berbagai ilmu, tapi pikiran tersebut tidak pernah diperbaharui dan dipakai untuk menjadi wadah dari "mind of God/pikiran "Allah".

Bekas duta besar Amerika Serikat, Charles Malik telah mensinyalir kecenderungan ini. Dalam pidatonya pada saat peresmian gedung Billy Graham Center di Wheaton College, tahun 1980, beliau mengatakan: "I must be frank with you; the greatest danger besetting Christianity is the danger of anti-intellectualism. The mind as to its greatest and deepest reaches is not care for enough." (The Two Tasks. Downers Grove, III: Inter Varsity, 1980, pp.33). Pikiran orang-orang percaya dengan segala potensinya tak pernah benar-benar dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhannya. Pembaharuan mind/akal budi sebagai bagian integral dari persembahan yang diperkenan Allah (Roma 12:1-2) tak pernah dikerjakan benar-benar.

Akibatnya, segala kekayaan dan rahasia surgawi yang disediakan Allah (Yoh 15:15) tak pernah dipahami dan dihayati untuk direalisasikan dalam dan melalui kehidupan orang-orang percaya. Tidak heran jikalau di tengah era Post Modern ini, umat Kristen kehilangan jati diri dan mengalami kebingungan role (role confusion) tak tahu persis apa yang menjadi panggilan Allah bagi dirinya.

Kedua, kecenderungan untuk menjadi apatis dan masa bodoh terhadap inti iman. Benih-benih yang sudah ditabur di era Modern sekarang bertumbuh dan berbuah di era Post Modern. Banyak orang Kristen tidak menyadah bahwa di dalam batin mereka inti iman mereka sudah hampir lenyap. Pengenalan dan pergaulan pribadi dengan Allah yang seharusnya menjadi inti iman sudah diganti dengan "cara (manifestasi iman yang baru) untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan dan keinginan pribadi". Mengherankan sekali betapa keinginan dan kebutuhan untuk mengenal dan bergaul dengan Allah secara pribadi makin lama makin lenyap. Kebutuhan dan keinginan pribadi menjadi begitu penting sampai umat Kristen tidak lagi mempedulikan apakah hubungan dan pergaulan mereka dengan Allah masih hidup dan terus menerus berkembang.

Dalam bukunya, Finding God, psikolog Kristen Larry Crabb mensinyalir gejala ini dan mengatakan dengan tepat sekali bahwa, "In today's world we have shifted away from finding God toward finding ourselves. Fondness for ourselves has become the highest virtue... Feeling better has become more important to us than finding God "(Grand Rapids, Zondervan, 1993, pp. 15-17).

Gejala seperti ini makin lama akan menjadi makin parah, karena Post Modern spirit telah mengubah Allah menjadi "simbol iman agama". Akibatnya manusia menjadi makin tidak peduli terhadap pribadi Allah dan pergaulan dengan-Nya. Yang terpenting adalah bagaimana memakai simbol-simbol tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadinya. Di tengah pergumulan dan persoalan-persoalan hidup ini, Allah hanyalah sarana untuk menyelesaikannya. Orang tidak lagi bersedia bergumul untuk mendapatkan pengenalan yang dalam akan kehendak dan pribadi Allah.

Kekristenan menghadapi krisis. Doakan STTRII, Institut Reformed, dan Sekolah-sekolah Theologi Reformed yang secara khusus memang didirikan untuk menjawab tantangan ini. Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita semua.

 
«StartPrev12NextEnd»

Page 1 of 2
Banner
Copyright © 2014 konselingkristen.org. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.