Home Parakaleo
Parakaleo
KOMUNIKASI PDF Print E-mail
Wednesday, 04 August 2010 08:30


Komunikasi merupakan salah-satu karakteristik manusia sebagai makluk social.  John Doone mengatakan, “No man is an island.” Tak mungkin manusia hidup tanpa komunikasi dengan sesamanya. Firman Allah mengatakan, ”Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej. 2L18). Begitu pentingnya hubungan manusia dengan sesamanya, seolah-olah dapat disimpulkan bahwa manusia kehilangan naturnya sebagai peta dan gambar Allah pada saat ia menolak kebutuhannya akan sesama dan merusak kemunikasinya dengan mereka.

Alkitab mencatat betapa kejatuhan manusia dalam dosa ditandai dengan rusaknya komunikasi.  Manusia tidak bisa lagi mempercayai sesamanya, karena di lubuk hatinya yang terdalam, ia sering menyimpan rahasia-rahasia pribadi yang begitu busuk, yang oleh Feodor Dostoevski dikatakan, “He cannot reveal even to himself.” Sejak itu, defence mechanism yang disebut repression, menjadi bagian integral dari hampir setiap komunikasi, karena tanpa itu manusia akan menjadi monster-monster yang siap untuk saling melukai bahkan membunuh sesamanya. Suatu realita yang menakutkan, yang seringkali melibatkan orang-orang percaya dalam pergumulan yang tidak habis-habisnya.

Apakah sebenarnya komunikasi itu ?  Apakah perlu seorang mengkomunikasikan secara utuh apa yang ada dalam hatinya ? Apakah diperlukan kejujuran dalam komunikasi ? Apakah integritas, ketulusan, dan kejujuran dapat menjadi titik-temu dalam iman Kristen ? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini terus-menerus dipertanyakan oleh orang-orang percaya yang merindukan kahidupan yang integratif dan utuh. Untuk itu, beberapa hal di bawah ini perlu diperhatikan.

Pertama, kejujuran tanpa ketulusan menghasilkan kekristenan tanpa integritas.  Baru-baru ini surat kabar memberitakan tentang panglima pasukan AS di Pasifik, Laksamana R.Macke yang terpaksa mengundurkan diri oleh karena komentar pribadinya yang sangat tidak bijaksana tentang pemerkosaan yang dilakukan tiga serdadu Amerika di Okinawa.  Ia mengatakan, ”Perbuatan itu sangat bodoh (pemerkosaan ansich baginya bukan kebejatan moral yang harus dikutuki). Berulangkali saya sudah katakan bahwa dengan uang tambahan untuk sewa mobil, mereka dapat memiliki seorang wanita.” (Kompas, 20 Nop 1995). Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa persoalan ini bukanlah persoalan moral tetapi persoalan “kebodohan”. Suatu penyangkalan terhadap hati nurani (sumber ketulusan) dan penghinaan terhadap martabat wanita.

Macke adalah seorang yang jujur, tetapi kejujurannya adalah kejujuran tanpa ketulusan. Oleh sebab itu, segera setiap orang (termasuk pemerintahan Bill Clinton) menyadari bahwa penglima yang memimpin 330.000 pasukan Amerika di Pasifik tersbut manusia tanpa integritas. Apa yang dikomunikasikanny adalah hati yang tidak mengenal ketulusan.  Ia harus segera dipecat.

Kedua, kejujuran yang lahir dari ketulusan tidak selalu dapat dan perlu dikomunikasikan. Amsal Salomo mengatakan, “Orang bebal tidak suka kepada mengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.” (Amsal 18:2).  Mungkin ia tulus, mungkin motivasinya baik, tetapi ia disebut sebagai orang yang bebal karena ia membeberkan apa yang ada di dalam hatinya.  Apalagi jikalau itu dikomunikasikan secara umum kepada semua orang.

Lady Di (istri pangeran Charles dari Inggris) adalah salah-satu contoh yang paling gamblang untuk kelemahan ini.  Ia tulus, dan sesuai dengan hati nuraninya yang ingin membela kebenaran dan keadilan, ia rela diwawancarai oleh BBC London (20 Nop 1995) dan bahkan menjawab dengan jujur tentang kehidupan pribadinya.  Ia tahu cerita pribadinya akan dikomersilkan oleh BBC dan rahasia pribadinya akan diketahui oleh ratusan juta umat manusia di seluruh dunia. Tetapi otaknya tidak bekerja dengan baik, sehingga ia tidak memakai pertimbangan akal yang bijaksana.  Ia tidak memahami bahwa kejujurannya yang memuaskan hatinya sendiri dan mengundang simpati masyarakat banyak ternyata mempunyai dampak perubahan sikap hidup jutaan wanita di seluruh dunia. Kejujuran dan ketulusannya telah melegalisir perzinahan bagi mereka yang merasa cintanya dikhianati.

Komunikasi adalah art yang membutuhkan penanganan yang hati-hati. Komunikasi adalah bagian integral dari pertanggung-jawaban iman Kristen. Komunikasi membutuhkan kedewasaan karena tanpa itu kejujuran dan bahkan ketulusan pun tidak cukup.


 
MEMPERBAIKI KOMUNIKASI SUAMI-ISTRI PDF Print E-mail
Wednesday, 04 August 2010 07:12

Adakah saran supaya kami sebagai suami-istri, dapat berkomunikasi dengan lebih baik lagi ?

Pertanyaan ini penting sekali sebab saya percaya, komunikasi merupakan  aspek yang sangat berpengaruh dalam pernikahan.  Saya mengatakan berpengaruh sebab komunikasi memang mempengaruhi begitu banyak aspek dalam kehidupan berkeluarga. Komunikasi adalah sarana menyampaikan isi hati kita kepada orang lain dan sarana ini sangat mempengaruhi orang lain mengerti isi hati kita. Untuk menekankan betapa pentingnya komunikasi ini, saya akan melukiskannya dengan satu ilustrasi. Misalkan saya ingin menghadiahkan istri saya sebuah baju yang diidam-idamkannya. Namun saya bukannya memberikan hadiah itu melalui uluran tangan saya melainkan melemparkannya kepadanya. Kira-kira bagaimana tanggapan istri saya menerima hadiah tersebut ? Saya kira pasti ia tidak merasa senang  bahkan dapat merasa terhina oleh pemberian saya.  Dari ilustrasi ini kita dapat melihat, bahwa meskipun saya berniat memberikan suatu hadiah tapi kalau cara penyampaiannya tidak tepat, maka niat saya itu tidaklah mencapai sasarannya. Bukannya saya membuat istri bahagia, malah membuatnya marah.

Komunikasi mencakup banyak faktor dan saya tidak akan mampu menguraikannya secara menyeluruh dalam ruang ini.  Namun pada dasarnya ada dua hal yang penting kita pelajari supaya kita dapat meningkatkan kualitas pernikahan kita. Pertama adalah kejelasan dalam motif atau tujuan. Dengan kata lain, penerimaan kita akan apa yang orang lain katakan sangatlah bergantung pada berapa percayanya kita pada motif atau tujuannya. Jika kita percaya bahwa istri kita memberitahu kita dengan motif yang baik, maka kita cenderung akan lebih dapat menerima perkataan itu.  Sebaliknya, jika kita meragukan motifnya dan berprasangka bahwa ia bermaksud menjatuhkan kita, maka kita tidak akan dapat mendengar perkataannya dengan tepat. Jelas di sini bahwa komunikasi sangatlah dipengaruhi oleh rasa saling percaya dalam pernikahan.

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, bagaimanakah saya dapat membuat pasangan saya percaya bahwa saya bermaksud baik sehingga ia dapat menerima perkataan saya. Ini melibatkan banyak faktor, misalnya hubungan kita sehari-hari dengannya akan mempengaruhi rasa percayanya pada kita. Namun ada satu yang dapat kita lakukan supaya ia jelas dengan motif kita, yakni, sebelum kita mengungkapkan isi hati kita, kemukakanlah dahulu tujuan atau motif kita. Baru setelah itu, kita mengatakan apa itu yang ada dalam isi hati kita. Misalkan kita merasa kuatir sekali karena suami kita belum kembali pada waktu yang ia janjikan. Bagitu cemasnya sehingga kita merasa tegang dalam penantian itu. Akhirnya ia datang kembali, misalkan 2 jam terkambat.  Begitu ia tiba, kita langsung… memarahinya, dan pernyataan pertama yang keluar dari mulut kita adalah, “Mengapa kamu tidak memberi kabar bahwa kamu akan terlambat?”  Dengan kata lain, yang keluar dari mulut kita adalah tuduhan serta kemarahan, bukan kasih dan cemas karena takut kehilangan dirinya. Kita tidak memberinya kesempatan menerangkan alasan ia terlambat, melainkan langsung memarahinya karena membuat kita cemas. Sesungguhnya kita cemas karena kita takut kalau-kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya.  Seharusnya inilah tujuan kita berkomunikasi kepadanya dan seharusnya inilah yang kita sampaikan kepadanya terlebih dahulu. Jadi kita dapat memulai percakapan kita tatkala ia tiba di rumah dengan mengatalan, “Saya merasa cemas sekali karena kamu begitu terlambat pulang. Saya takut kalau-kalau ada apa-apa yang terjadi denganmu.”  Saya percaya pernyataan ini akan lebih mudah didengar daripada pernyataaan semula tadi dan akan memperoleh tangapan yang jauh lebih simpatik.

Hal kedua dalam komunikasi yang penting adalah cara atau bagaimana kita menyampaikan isi hati kita. Dalam ilustrasi tadi, pernyataan yang keluar dari mulut kita adalah tuduhan, karena kita telah menuduhnya tidak bertanggung-jawab atau gagal memberi kabar akan keterlambatannya itu. Saya percaya kita semua tidak suka dituduh meskiupun dalam kasus kita memang salah.  Nah, apalagi dalam kasus kita tidak salah atau tidak merasa bersalah. Sudah pasti tuduhan membuat kita ingin membela diri.  Tatkala mendengar nada tuduhan, kita menjadi sibuk membela diri dan akibatnya, kita gagal mendengarkan perkataan pasangan kita.  Jadi dalam penyampaian penting sekali kita menghilangkan nada tuduhan. Biasanya nada tuduhan diawali dengan, ”Kamu …”.  Sebaliknya, nada bukan tuduhan diawali dengan, “Saya merasa …”.  Sebagaimana dilukiskan dalam contoh tadi, kita berkata banwa kita merasa cemas dan kita pun menjelaskan alasannya, yakni kita takut kalau-kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya. Kita tidak mengatakan bahwa kita marah karena ia tidak peduli dengan kita atau bahwa kita cemas karena ia tidak bertanggung-jawab.  Jadi, mulai dengan perasaan kita pada saat itu dan fokuskan pada perbuatan yang spesifik, yang  dalam kasus tadi, ia terlambat pulang bukan pada intepretasi kita, yakni ia tidak bertanggung-jawab atau tidak peduli dengan kita. Saya percaya ini akan menolongnya memberikan penjelasan kepada kita sebagaimana yang kita kehendaki.

Last Updated on Wednesday, 04 August 2010 07:19
 
CAREER WOMAN PDF Print E-mail
Wednesday, 04 August 2010 04:20


Alkitab menyaksikan bahwa career woman (istri atau ibu yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan) bukanlah suatu aib. Bahkan wanita-wanita ideal yang diceritakan dalam Alkitab (Amsal 31:10-31 ; II Raja-raja 4:8-37 ; Kisah Para Rasul 18:3) adalah wanita-wanita karier yang bekerja dengan motivasi dan tujuan yang benar sebagai ‘penolong yang sepadan’ bagi suaminya. Maksudnya, mereka tidak bekerja untuk kesukaannya sendiri tetapi untuk kebahagiaan seluruh keluarganya. Tidak heran, jikalau hasil kerja mereka membuat suaminya duduk di pintu gerbang (menjadi orang ynag dipanuti) dan anak-anaknya berbahagia (Amsal 31:23,28)


Meskipun demikian, Alkitab juga menyaksikan bahwa wanita sebagai istri dan ibu adalah homemaker (pencipta rumah-tangga). Sesuai dengan naturnya sebagai wanita yang mengandung, melahirkan, dan menyusui (natur yang tidak dimiliki pria), wanita secara khusus dipanggil untuk  merawat dan menciptakan suasana yang kondusif untuk pertumbuhan setiap pribadi yang ada di dalam keluarganya.  Sebagai penolong yang sepadan, ia juga memikul tanggung-jawab penuh untuk setiap kegiatan dalam rumah-tangga tersebut.  Dengan perannya sebagai istri, ia menciptakan “home” yang sesungguhnya di mana setiap individu dalam keluarga tersebut tahu “peran (role)” apa yang harus dijalankan. Dan dengan nalurinya sebagai ibu, ia menciptakan suasana di mana “kasih, kelembutan, kengahatan, rasa memiliki dan dimiliki, dan rasa aman” betul-betul dialami dalam konteks yang tepat.  Coba bayangkan jikalau hal-hal yang sangat dasar ini tidak menjadi pengalaman pribadi dalam konteks “home/rumah-tangga”.

Dulu wanita tidak mengalami kesulitan berada di tengah peran ganda ini, tetapi sekarang khususnya di era globalisasi ini, peran ganda ini merupakan dilemma dalam kehidupan banyak wanita.*)  Mereka seolah-olah harus memilih, dan pilihan apapun (menjadi career woman atau homemaker) selalu dirasakan salah. Banyak wanita terus-menerus menyimpan perasaan bersalah denga memilih yang satu dan “mengabaikan” yang lainnya.  Dan perasaan bersalah tersebut ternyata tidak hilang meskipun pilihan tersebut didukung suami dan anak-anaknya.

Career woman dan homemaker, kedua-duanya adalah abgian integral dari natur wanita.  Wanita tidak dipanggil untuk memilih. Wanita dipanggil untuk hidup dengan kedua peran tersebut.  Kematangan pribadi, fleksibilitas, dan kebijaksanaan memang menjadi syarat mutlak untuk mereka yang ingin menjadi istri dan ibu yang baik. Tuhan kiranya memberkati hati wanita yang masih rela untuk dibentuk.

*) Ada delapan pilihan yang tersedia bagi wanita, yaitu : (1) menjadi traditional homemaker, dimana suami menghendaki istri tinggal di rumah, dan istri juga suka tinggal di rumah untuk domestic job ;  (2) menjadi defiant homemaker, dimana suami ingin istri berkarier, tetapi istri maunya tinggal di rumah ; (3) menjadi submissive homemaker, dimana istri terpaksa mengalah terhadap suami, walaupun istri ingin berkarier, tapi ia rela tinggal di rumah ; (4) menjadi reluctant homemaker, dimana keduanya menginginkan istri bekerja, tapi kondisi tidak memungkinkan ; (5)  menjadi  defiant working wife, dimana suami mengalah karena istri berkeras mau berkarier ; (6) menjadi submissive working wife, dimana istri mengalah meskipun tidak suka, ia terpaksa bekerja karena kemauan suami ; (7) menjadi reluctant working wife, dimana keduanya ingin istri di rumah tapi kondisi memaksa ia untuk bekerja ; (8) menjadi contemporary working wife, dimana keduanya bekerja dan itulah yang mereka kehendaki.



 
DISIPLIN ANAK PDF Print E-mail
Wednesday, 04 August 2010 02:54

 

Di tengah realita makin banyaknya orangtua yang kedua-duanya bekerja, seringkali timbul pertanyaan tentang siapa yang bertanggung-jawab dalam masalah disiplin anak. Kesibukan orangtua baik dalam pekerjaan maupun dalam pelbagai kegiatan social seringkali mempunyai dampak langsung terhadap tanggung-jawab disiplin pada anak-anak mereka. Konsentrasi yang terbagi-bagi antara pekerjaan, pelayanan, kegiatan sosial dan kehidupan rumah-tangga telah membuat banyak orang-tua merasa tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang disiplin.

Sejalan dengan sistim kehidupan tersebut, orangtua menemukan bahwa anak-anak mereka mulai membentuk pola belajar yang kurang bertanggung-jawab, malas, suka membantah, dan tidak bisa diatur. Mulailah mereka sadar, prihatin, mencoba mencari jalan keluar, tapi tanpa hasil yang memuaskan, dan bahkan banyak diantara mereka putus asa. Bagaimana dan kapan disiplin diterapkan bagi anak-anak mereka ?

Tantangan ini makin dirasakan krusial pada saat orangtua menyadari akan tuntutan globalisasi di akhir abad XX ini dimana keberhasilan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan seorang dalam adaptasi social dan disiplin diri. Anak-anak harus dipersiapkan untuk nantinya bisa mandiri dalam bekerja, berinovasi, kreatif, dan bertanggung-jawab penuh dalam kehidupannya.

Kesadaran akan krisis ini semakin dirasakan pada saat orangtua memahami apa yang terjadi dengan anak-anak mereka di sekolah. Lebih dari separuh guru sekolah yang frustrasi dan menjadi apatis karena apa yang di-ideal-kan tak pernah menjadi kenyataan. Mareka hanya mampu memberikan bahan-bahan pelajaran, tetapi dalam masalah pembentukan karakter, mereka angkat tangan. Herannya, keprihatinan seperti ini sudah menjadi pergumulan orangtua ribuan tahun yang lampau. Pada abad ke-5 SM Socrates pernah mengatakan :

“Our youth now luxury, they have bad manners contempt for authority, show disrespect for their elders, and love to chatter in place of exercise … they contrasdict their parents, … and terrorize their teacher.”

“Sekarang muda-mudi hanya mencintai kemewahan, mereka mempunyai kebiasaan buruk, melawan otoritas, tidak menghargai orang yang lebih tua… dan kurang bertanggung-jawab. Mereka tidak mempunyai sopan-santun,… melawan pendapat orangtua dan guru.” (Amundson, K.1991,p.15)

Masalah disiplin adalah masalah yang sudah setua manusia. Sejarag gereja menyaksikan betapa manusia selalu saling melempar tanggung-jawab antara orangtua, gereja, dan sekolah. Siapa yang sebetulnya harus memikul tanggung-jawab dalam disiplin anak, jika anak-anak anda menghabiskan sebagian besar dari waktunya di sekolah ? Apakah disiplin anak merupakan bagian utama dari yanggung-jawab guru ? Atau disiplin harus ditanamkan oleh kedua orangtua?

Ada dua hal yang perlu dipikirkan di sini :

Disiplin harus ditanamkan oleh kedua orangtua

Walaupun banyak variasi dari gagasan orangtua dalam pendidikan, tetapi nilai utama yang didambakan oleh orangtua pada umumnya sama. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai disiplin yang baik, karena itu setiap kali ada kesempatan berbicara di depan anak, mau tidak mau nadanya selalu memberikan arah, pandangan pertimbangan, dan nasehat. Agar pertimbangan dan nasehat orangtua berhasil, apakah yang diperlukan ?

Perdebatan antara cara menangani disiplin sejak lama sudah ada antara mereka yang permissive (member kebebasan pada anak, karena mereka menganggap setiap anak mempunyai tendensi alamiah untuk mengerti kemampuan dirinya sendiri), dan authoritarian (yang menekankan ketaatan yang optimal dari anak). Braumrind (1978) mengusulkan authoritative style seperti yang dikutip oleh Ambron (1978) :

“…exert firm control when young child disobeys, but does not hem the child with restrictions, recognizing the child’s individual interests and special ways.”

“Orangtua mempunyai control yang jelas waktu anak membangkang, tetapi keunikan setiap anak harus diperhatikan, dan tidak mengurung anak dengan peraturan-peraturan.”

Di balik apa yang dikatakan di atas, Braumrind sebenarnya menyadari perlunya system yang menyeimbangkan dua prinsip disiplin tadi. Hal ini sudah harus terbentuk di rumah sejak anak-anak masih kecil, karena disiplin yang ditanamkan sejak dini tidak membuat anak merasa asing pada waktu ia mendapatkan disiplin di sekolah. Pendidikan baik di rumah maupun di sekolah membutuhkan perhatian, usaha, dan tanggung-jawab penuh dari orangtua. Seperti pola ketidak-taatan anak merupakan suatu proses, demikian pila pola disiplin merupakan suatu proses yang haus berjalan sejajar baik dari orangtua maupun dari pihak sekolah. Dengan kata lain, untuk dapat mendisiplin anak dengan baik, antara lain :

a. Orangtua harus terlebih dahulu konsisten dengan kriteria disiplin yang akan mereka tetapkan. Anak-anak akan belajar bila ketetapan-ketetapan disiplin dilaksanakan dengan konsisten dan bijaksana.Antara ayah dan ibu harus ada kesepakatan. Jangan sampai ada yang dilarang ayah, diam-diam diberikan oleh ibu. Disiplin tidak cukup hanya dengan peraturan atau larangan saja, naming juga dibutuhkan keteladanan dan tuntutan moral dari keluarga sendiri.

b. Standar yang orangtua pakai untuk mendisiplin anak harus sederhana dan jelas. Misal, suatu hari anda tidak memberikan reaksi ketika anda sedang sibuk menyelesaikan tugas dan membiarkan si anak nonton TV sambil makan malam. Minggu berikutnya anda uring-uringan dan menghukum anak karena anda pikir tidak seharusnya ia makan malam sambil nonton TV. Hal ini tentu akan membuat anak berpikir bahwa ketentuan hukuman dan disiplin hanya merugikan anak, mereka tidak belajar dari disiplin yang anda terapkan.

c. Disiplin pada saat yang tepat

Banyak orangtua mendisiplin anak setelah frustrasi karena kesalahan yang bertumpuk-tumpuk dari anak. Sehingga anak seringkali tidak mengerti dengan pasti ia didisiplin bahkan dihukum karena apa. Seharusnya anak didisiplin pada saat ia tidak bertanggung-jawab, atau melanggar peraturan yang sudah ditetapkan.

Banyak orangtua yang takut mendisiplin karena kuatir anak akan memberontak dan tidak mengasihi orangtua lagi. Hal ini ternyata tidak benar! Oleh karena setiap anak membutuhkan disiplin. Mereka membutuhkan pola kehidupan dan keteraturan yang baik. Sehingga anak dapat bertanggung-jawab untuk mengikuti aturan anda dan mendapatkan disiplin sebagai peringatan akan pelanggaran dan apa yang mereka sudah lakukan.

Disiplin juga hrus ditanamkan di sekolah

Ada banyak pendapat yang menekankan bahwa pendidikan akademis harus lebih ditekankan di sekolah dan disiplin sebaiknya diatur di rumah. Di pihak lain timbul pertanyaan, apakah sekolah hanya mendidik anak dari segi kognitif sekitar materi pelajaran saja ? Padahal sekarang ini banyak sekolah yang mulai memberlakukan jam-jam pelajaran yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga otomatis anak lebih banyak waktu di sekolah daripada di rumah. Tidak heran jikalau Greer,P. dan Ryan,K. (1989) menulis dengan jelas bahwa ternyata tugas guru lebih daripada hanya mengajarkan materi (content) saja :

“We are living in a time of unparralleled levels of crime, suicide, and antisocial behavior on the part of our young people. The absence of values and self-control permeates the life of the school and is evidenced by poor discipline … Much of the energy of teacher and administrators… goes to coping with poor behavior that flows directly from a lack of values and weak character.”

“Kita hidup pada masa dimana kejahatan, bunuh-diri, dan perilaku anrisosial dari kaum muda tidak dapat lagi disejajarkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Kevakuman standar nilai dan kontrol diri mempengaruhi kehidupan sekolah yang dapat dibuktikan dari lemahnya disiplin siswa… Banyak tenaga dari guru-guru dan lembaga administratif sekolah… yang harus dicurahkan untuk mengatasi sikap siswa yang tidak terpuji, yang sebenarnya muncul dari lemahnya standar nilai dan karakter.”

Jadi, disiplin juga harus ditegakkan oleh pihak sekolah, supaya anak tidak hanya pandai tetapi juga mempunyai karakter yang baik. Seperti yang Dobson (1995) katakan :

“Our school must have enough structure and discipline to require certain behavior from student, because one of the purposes of education is to prepare our children for life.”

“Sekolah harus mempunyai struktur dan disiplin yang cukup untuk menghasilkan siswa-siswa yang berkarakter, karena tujuan pendidikan adalah untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di masa mendatang.”

Oleh karena ketidak-disiplinan terjadi melalui proses erosi yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, maka penanggulangannya pin harus dilakukan sedikit demi sedikit. Ketaatan anak dan peraturan sekolah merupakan kunci untuk memasuki kehidupan social anak di kemudian hari. Karena itu,

a. Jangan membela anak pada saat ia mendapatkan disiplin dari sekolah. Sedapat mungkin ada mendukung disiplin yang diterapkan sekolah untuk kebaikan anak.

b. Bila anak bermasalah, carilah waktu untuk bertemu dengan guru yang bersangkutan dan ciptakan kerjasama yang baik.

 

Last Updated on Wednesday, 04 August 2010 03:03
 
PANGGILAN ALLAH UNTUK PRIA DAN WANITA PDF Print E-mail
Monday, 24 May 2010 03:18


Walter Trobisch dalam bukunya The Misunderstood Man menceritakan tentang seorang kepala suku di Afrika yang pada suatu hari mengumpulkan semua pria yang sudah menikah di rumahnya. Ceritanya, ia mengkuatirkan kalau-kalau the real man (pria sejati) sudah tidak ada lagi karena kekuasaan istri di rumah mereka masing-masing.  Ia meminta semua pria yang hadir memilih. Yang merasa dikuasai oleh istrinya boleh meninggalkan rumah tersebut lewat pintu sebelah kanan, sedangkan yang lain lewat pintu sebelah kiri. Heran, ternyata cuma satu orang yang berjalan keluar lewat pintu sebelah kiri.  Dengan suara keras, kepala suku itu berseru, “Nah, akhirnya kita berhasil menemukan the real man.”  Lalu ia mendekati orang tersebut dan bertanya, “Man, could you please share with us your secret ?”  (“Dapatkah Anda menceritakan rahasianya sampai Anda berhasil menguasai istri Anda ?”).  Dengan malu-malu orang tersebut menjawab, “Chief, when I left home this morning, my wife said to me, “Husband, remember, never follow the crowd !” (“Pak kepala, sebelum saya meninggalkan rumah tadi pagi, istri saya mengatakan kepada saya : ‘Suamiku, ingat, jangan ikut-ikutan orang banyak !”)
Drama tragedi yang terus-menerus dimainkan manusia tercermin melalui ilustrasi di atas. Pria, bagaimanapun tangguh, matang, dan bijaksananya, senantiasa bergumul dengan perasaan gagal dan keinginannya untuk menyerahkan seluruh beban tanggung-jawabnya sebagai kepala keluarga.  Dan wanita, bagaimanapun lemah-lembutnya, selalu bergumul dengan ketidak-relaan menerima panggilannya sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya. Dosa telah merusak rencana kekal Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan pembentukan keluarga. Keunikan peran pria sebagai suami-kepala keluarga, dan wanita sebagai istri-penolong sepadan, makin lama makin tidak dipahami, apalagi ditengah pergeseran-pergeseran nilai zaman ini.  Apa sebenarnya yang Alkitab ajarkan ?


1.    Allah menciptakan pria dengan natur yang berbeda dari wanita, dan perbedaan itu menjadi dasar dari perbedaan panggilan untuk suami dan istri. Hanya wanitalah yang mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui.  Oleh sebab itu, meskipun pria dan wanita bisa melakukan jenis pekerjaan yang sama (menggendong, menyuapi, dsb) dan bisa mengembangkan kualitas kerja yang sama (pria bisa merawat anak sebaik wanita dan wanita bisa memimpin perusahaan sebaik pria), mereka seharusnya mempunyai motivasi dan tujuan kerja yang berbeda. Pria tidak dipanggil Allah untuk menjadi ibu dan penolong yang sepadan, dan wanita tidak dipanggil untuk menjadi bapak dan kepala keluarga.

2.    Panggilan Allah untuk pria dan wanita tidak terpisah bahkan menyatu dengan talenta, kesempatan, bakat, dan kematangan life structure – nya (watak dan kepribadian). Meskipun demikian, panggilan untuk pria sebagai suami-kepala keluarga dan wanita sebagai istri-penolong yang sepadan tak pernah berubah. Banyak suami-suami yang lemah dan istri-istri yang mempunyai talenta dan kepribadian yang lebih kuat, tapi bakat dan kepribadian tidak mengubah panggilan Allah atas mereka. Bahkan makin lemah si suami, makin besar tanggung-jawab istri untuk mendemonstrasikan panggilannya sebagai penolong yang sepadan, yang mampu menciptaklan “suasana dan kondisi yang kondusif untuk pertumbuhan suaminya”.  Dengan kelebihannya, ia tidak terpanggil untuk mengambil alih tugas dan panggilan suami-kepala keluarga.  Begitu juga bagi suami, makin kuat ia, makin besar tanggung-jawabnya untuk mendemonstrasikan pengorbanan dan pelayanannya kepada istrinya, teman pewaris kasih karunia Allah tersebut (Matius 23:11 ; I Pet 3:7).

3.    Memang salah satu tujuan Allah membentuk keluarga (Kejadian 1:26-28) adalah mengerjakan mandat budaya Ilahi, tapi sukses mencapai tujuan tersebut bukanlah merupakan objektif/target panggilan Allah. Allah lebih berkenan kepada hati yang hancur, patah, tulus, dan dengar-dengaran. Tidak heran jikalau kasih yang mula-mula lebih berharga di mata Allah daripada achievements yang dicapai (Wahyu 2:1-7)

Seringkali prinsip kebenaran ini diabaikan suami-istri. Untuk target (mis : keberhasilan studi anak-anak, sukses dalam bisnis, dsb) mereka rela berkelahi, menang-menangan, saling memperebutkan hak dan saling melukai. Mereka lupa bahwa hidup dengan target-terget hanyalah sarana yang dipakai Allah untuk membawa mereka masuk ke dalam proses pertumbuhan yang dikehendaki Allah. Bagi orang percaya, proses lebih penting daripada goals dan achievements yang akan dicapai.
Kiranya berkat Tuhan dilimpahkan pada mereka yang mengasihi Tuhan dengan tulus dan benar.

 
«StartPrev123NextEnd»

Page 1 of 3
Banner
Copyright © 2010 konselingkristen.org. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
 

Buku

Please wait while JT SlideShow is loading images...
Mengenal dan Bergaul dengan AllahKonseling PranikahPelayanan Konseling Melalui TeleponMenjadi Konselor yang ProfesionalMarriage EnrichmentThe Integrated LifeKaum InjiliTeologi Modern 1Teologi Modern 2Pastoral Konseling 1Pastoral Konseling 2Pengantar ke dalam Teologi Reformed